LIPUTAN12 – Buku Bayang Firdaus, kumpulan puisi bilingual karya Halimah Munawir, pada pekan literasi dilaunching secara virtual oleh penerbit Diomedia, Sabtu (28/8/2021).

Karya-karya Halimah berupa puisi, cerpen, novel, adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Semua lahir dari sebuah imajinasi atas  pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, dan keyakinan. Yang membedakan adalah hiasan dan untaian kata serta panjang pendeknya kalimat murni dari sebuah kemerdekaan jiwa penulisnya. Namun genre baru pada dunia sastra yakni puisi esai yang dilahirkan oleh sahabatnya Denny JA, di sanalah ada sedikit perbedaan, puisi esai sedikit berbau ilmiah.

“Di sana ada catatan kaki sebagaimana yang terdapat pada buku-buku ilmiah dan mengajak pembacanya untuk lebih kreatif dalam mendalaminya dengan dapat membuka link pada catatan kaki. Adanya pro dan kontra, itu sah sah saja. Saya melihat dari sisi positifnya, pembeharuan yang mencerahkan dunia sastra,” terang Halimah.

Lebih jauh sastrawan ini menjelaskan, imajinasi tinggi dari seorang intelektual yang memiliki segudang pengalaman, perlu kita hargai. Ibarat buah yang jatuh, dia tidak jauh dari pohonnya. Begitupun dengan puisi esai yang dilahirkan Deny JA, mencirikan sang pelahir.

Cover buku Bayang Firdsus.

Awal mula Halimah Munawir  menulis puisi, sewaktu berseragam putih abu abu, di atas buku diary. Jika diuntai dalam kata puisi seperti ini:

Hiruk pikuk, heroik dunia pada putaran waktu

Mengajakku bercengkerama dengan kata yang mengisi ruang kepala.

Jelang redup mata oleh panggilan malam