LIPUTAN12 – Kartini merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Beberapa kali teman yang biasa berkirim surat kepadanya meminta agar Ia pindah agama saja. Ketika diajak pindah agama oleh temannya, ia menjawab melalui suratnya:

“Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentu lah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”.

Demikianlah jawaban Kartini yang teguh atas keimanannya kepada Allah Subhanawata’ala.

Tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Pada hari itu telah lahir sosok muslimah yang rajin dan pandai mengaji, wanita yang kuat memegang ajaran agamanya, serta teguh menjaga imannya.

Perjalanan sosok Raden Ajeng Kartini menjadi muslimah yang kaffah terdapat dalam kumpulan suratnya, Door Duisternis Tot Licht, dalam bahasa arabnya, Minazh Zhulumaati Ilan Nuur, dari gelap menuju cahaya, yang merupakan inti dari panggilan Islam, artinya membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan hidayah) ke tempat terang benderang (petunjuk atau kebenaran al haq).

Raden Ajeng Kartini saat itu memiliki cita-cita dan perjuangannya begitu berarti bagi pendidikan di bumi pertiwi.

Sayangnya, kebanyakan perempuan saat kini hanya mengartikan bahwa R.A. Kartini sekadar pejuang emansipasi wanita dan banyak orang yang tidak mengetahui perjalanan R.A. Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.

Perlu kita sadari bahwa apa yang diperjuangkan dan dicita-citakan dari sosok Kartini yaitu senantiasa mengangkat kesempurnaan dan kemuliaan wanita yang ingin kembali pada fitrahnya.

Terdapat beberapa kalangan yang masih mempertanyakan hak dan peran wanita di ruang publik dalam Islam.