SUMENEP | Liputan12 — Dugaan polemik perselingkuhan yang melibatkan Kepala SDN Sakala II, Edi Kurniawan, dan seorang guru honorer, Reka Ruspawati, terus menuai reaksi dari berbagai pihak. Sorotan tajam datang dari tokoh masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga para wali murid yang menyyangkan munculnya dugaan pelanggaran moral di lingkungan sekolah.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Sakala, Marjuni, menyampaikan pernyataan tegas agar kedua individu yang diduga terlibat segera dipindahkan dari sekolah dan meninggalkan lingkungan desa. Menurutnya, keberadaan mereka telah menimbulkan keresahan dan dianggap tidak lagi layak berada di lingkungan pendidikan.
“Orang seperti itu sudah tidak pantas lagi mengajar di SDN Sakala II. Mereka harus segera dipindahkan dari desa ini karena memberikan contoh yang buruk bagi anak-anak kami,” ujar Marjuni saat dikonfirmasi pada Senin (4/8/2025) melalui pesan WhatsApp.
Ia juga mendesak Pemerintah Desa, khususnya Kepala Desa Sakala, untuk mengambil langkah tegas melalui sanksi sosial berbasis hukum adat yang berlaku. Namun, ia menilai bahwa sanksi tersebut berpotensi terhambatnya karena adanya hubungan kerabatan antara pelaku tak terduga dan Kepala Desa.
“Kami menghargai bahwa hukum adat sudah dijalankan, tetapi itu belum cukup. Masyarakat perlu ketegasan. Jangan sampai hubungan keluarga dengan Kepala Desa menjadi alasan pembiaran,” tegasnya.
Hanya itu, Marjuni juga meminta Bupati Sumenep untuk mempertimbangkan pemberhentian Kepala SDN Sakala II dari jabatannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), jika terbukti melanggar disiplin berat.
“Sebelumnya sudah ada ASN yang diberhentikan karena pelanggaran serupa. Jika ingin adil dan konsisten, maka Kepala Sekolah ini juga harus diberi sanksi setimpal,” lanjutnya.
Senada dengan itu, seorang wali murid berinisial RK mengaku kecewa dan menyebut dugaan tindakan tersebut sangat mencoreng nama baik dunia pendidikan.
"Kami sangat menyesalkan hal ini. Jika tidak ada tindakan tegas, kami mempertimbangkan untuk menarik anak-anak kami dari sekolah tersebut. Dunia pendidikan harus menjadi tempat yang bersih dari skandal semacam ini," ujarnya.