SUMENEP | Liputan12 – Kasus dugaan pelanggaran moral yang menyeret dua tenaga pendidik di SDN Sakala II, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, terus menuai sorotan publik. Selain dinilai mencoreng citra pendidikan, peristiwa ini juga memicu reaksi keras dari masyarakat adat yang langsung menjatuhkan sanksi hukum adat kepada pelaku tak terduga.
Oknum pendidik kedua yang dimaksud adalah Edi Kurniawan, Kepala Sekolah SDN Sakala II, dan Reka Ruspawati, seorang guru honorer. Keduanya diduga menghasilkan hubungan yang tidak patut dan telah melanggar norma sosial serta etika profesi.
Puncak reaksi masyarakat terlihat pada Senin (28/7/2025), ketika Pemerintah Desa Sakala bersama tokoh adat menjatuhkan sanksi sosial berbasis hukum adat kepada keduanya. Dalam sanksi tersebut, kedua pelaku tak terduga diarak keliling desa dimulai dari Balai Desa sebagai bentuk teguran dan peringatan atas pelanggaran nilai-nilai budaya dan kesepakatan bersama.
Benar, sanksi adat telah kami laksanakan sesuai Peraturan Desa (Perdes) yang berlaku. Proses ini merupakan bagian dari komitmen masyarakat untuk menjaga marwah desa dan menegakkan norma adat yang telah disepakati bersama, tegas Juhri, Sekretaris Desa Sakala, saat dikonfirmasi, Selasa (29/7/2025).
Menurutnya, sanksi ini bukan hanya sebagai bentuk hukuman, tetapi juga sebagai pembelajaran moral bagi masyarakat luas bahwa pelanggaran terhadap nilai adat tidak akan dibiarkan begitu saja.
"Kami tidak membeda-bedakan. Siapapun pelaku masyarakatnya, jika melanggar norma dan kesepakatan, akan dikenai sanksi. Hukum adat kami bukan sekedar simbol, tapi benar-benar diterapkan," tambah Juhri.
Reaksi masyarakat, khususnya para wali murid SDN Sakala II, pun tak kalah keras. Banyak dari mereka menyampaikan kekhawatiran terhadap kelayakan tokoh pendidik yang terlibat dalam dugaan tersebut.
“Kami sebagai wali murid sangat terganggu dan khawatir. Dunia pendidikan seharusnya menjadi tempat belajar nilai moral, bukan malah jadi panggung pelanggaran etika. Sanksi adat sudah dilakukan, tapi kepercayaan kami tetap terguncang,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Para orang tua berharap ada tindak lanjut dari pihak yang berwenang agar lingkungan sekolah kembali kondusif dan layak sebagai tempat pendidikan anak-anak.