SANANA|LIPUTAN12 – Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Sula, Laisidi Leko soroti persoalan pelayanan dan pembngunan tempat rawat inap pasien covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana.

Pasalnya, persoalan tempat rawat inap untuk pasien Covid-19 itu ruangannya disekat-sekat yang sementara ada di RSUD ini. Dirinya merasa bahwa kurang baik memberikan pelayanan terhadap pesien Covid-19 di kabupaten Kepulauan Sula.

Ketua komisi III DPRD Kepsul mengatakan, wabah covid-19 ini bukan baru satu bulan tapi kurang lebih setahun, paling tidak Direktur bersama pemerintah daerah sudah harus merencanakan soal ruang rawat inap pasien.

“Saya menilai rumah sakit belum mampu melalukan pelayanan yang terbaik untuk pasien covid-19 di Sula, karena tempat nginap pesiennya tidak layak sama sekali. Padahal setau saya anggaran begitu besar yang dialokasikan di RSUD Sanana,” jelas Lasisidi, Rabu (21/10/2020).

Menurut politisi Partai Bulan Bintang (PBB) Kepsul ini, mengungkapkan sampai sejauh ini, dirinya juga belum mengkroscek persoalan pembangunan perawatan pesien covid-19 yang direncanakan oleh Direktur RSUD, karena belum ada laporan sama sekali apa sudah ada penyelesaian atau belum.

“Bangunan yang direncanakan oleh Direktur RSUD terkait dengan rawat inap pasien Covid-19 ini, pernah dilaporkan ke pihak DPRD kepsul namun sampai sejauh ini kami belum caver pembangunan sudah selesai atau belum,” tuturnya.

“Saya melihat bahwa pembangunan rawat inap pasien Covid ini belum selesai, kalau sudah sampai di tingkat penyelesaian berarti tidak menggunakan lagi sekat-sekat ruangan untuk pasien Covid. Dengan keadaan seperti itu, saya selaku ketua komisi III menganggap tidak layak untuk melaksanakan perawatan pasien Covid-19,” kata Lasisidi Leko.

Lebih lanjut Ketua Komisi III ini mengatakan pada saat kami rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak RSUD, Direktur menyampaikan persencanaan untuk membangun LAB pemeriksaan labolatorium dan membeli atas pemeriksaan Sweb test.

“Pembanguna Lab untuk pemeriksaan labolatorium di RSUD Sanana sampai sejauh ini saya menganggap belum ada karena pembangunannya belum ada progres dan Direktur juga merencanakan untuk membeli alat pemeriksaan Sweb, karena sampai sejauh ini kita tidak mengetahui sama sekali bahwa di sula suda bisa melakukan pemeriksaan sweb test atau belum,” tukasnya.