SANANA|LIPUTAN12 – Menjelang pilkada serentak 9 Desember, Pemerintah Kabupaten Kepulaun Sula (Pemkab) Kepsul kembali memperbaiki jalan Waitinagoi-Wailoba, mulai dari kilometer 10-16. Meski begitu, masih tersisa 8 kilometer yang bisa dibilang rusak total.
Sebelumnya, jalan Waitinagoi-Wailoba telah dikerjakan oleh PT. Amarta Mahakarya dengan nilai Rp 11,5 Miliyar pada 15 Mei 2018 lalu dengan konraktornya atas nama Abraham alias Baram.
Salah satu warga Desa Wailoba, Karman Samuda mengatakan, jalan Waitinagoi-Wailoba rusak total di sekitar kilometer 5 dan 10 lantaran hujan sehingga mengakibatkan jalan mengalami patahan atau putus, sehingga membuat kendaraan roda empat tak bisa menyebrang lagi karena kondisi jalan saat ini bertambah mengecil akibat ditutupi rumput.
“Kondisi jalan bisa dibilang sudah tak layak lagi untuk melintas dari Desa Wailoba ke Waitinagoi sebab, hampir seluruh badan jalan telah rusak torang (kami) yang pakai motor saja harus menunda motor dan harus pakai angkat motor,” ungkap karman kepada liputan12, Selasa (29/9/2020).

Karman menambahkan, saat ini sekira 7 kilometer sudah diperbaiki, namun masih dibilang belum layak dipakai karena jika jalan masih terus ditimbun dengan material becek maka itu akan tetap hasilnya sama seperti sebelumnya.
“Karena pada saat pertama badan jalan itu dibuka awalnya mereka menggunakan material yang sama. Sehingga bila datangnya musim hujan, air akan tergenang di tengah badan jalan akhirnya meterial timbunan berubah menjadi becek. Mereka baru memperbaiki jalan tapi baru di kilometer 9-16. Tapi ya tetap hasilnya sama saja,” tuturnya.
Karman bilang bukan saja jalan yang rusak total, tetapi ada sejumlah jembatan yang terbuat dari kayu sudah ambruk sehingga bila ada kendaraan yang mau melintas harus berhati-hati karena kalau tidak akan jatuh ke jurang.
“Saat ini badan jalan jadi tempat air mengalir sehingga seluruh badan jalan dipenuhi bebatuan dan lubang-lubang yang membuat kendaraan roda dua susah untuk melintas. Jujur ya, kasihan Torang (kami) yang melintas dengan motor saja sangat sulit dan kalau tidak hati-hati maka akan jatuh di jurang, karena jalan berlubang. Ditambah batu-batu yang memenuhi badan jalan, Torang tidak bisa berkata-kata,” kesalnya.