Oleh: Emrus Sihombing, Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner
LIPUTAN12.ID|JAKARTA – Mengapa Jubir harus dari komunikolog? Di seluruh perguruan tinggi di dunia, ilmu komunikasi telah menjadi kajian serius dan mendalam serta merupakan program studi tersendiri, seperti kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya.
Karena itu, komunikasi sudah suatu kelompok ilmu mandiri yang “melahirkan” berbagai profesi di bidang komunikasi.
Sama dengan spesialis di bidang kedokteran, ilmu komunikasi memiliki berbagai profesi, seperti jurnalis, retoris, juru bicara (jubir), lobis, propagandis, dan lain sebagainya.
Jadi, seorang profesional yang handal di bidangnya “lahir” dari satu kelompok ilmu, bukan dari kelompok ilmu lain yang tidak relevan. Dokter spesialis kebidanan harus dari induk disiplin ilmu kodokteran, tidak berada dalam kelompok ilmu fisika murni, misalnya.
Analoginya sederhana. Orang yang berlatar belakang dokter dipastikan lebih kompoten dan profesional mengelola (manajemen) kesehatan daripada seorang sarjana biologi.
Orang yang berlatar belakang hukum dipastikan lebih kompoten dan profesional mengelola (manajemen) perkara daripada seorang sarjana teknik.
Orang yang berlatar belakang ekonom dipastikan lebih kompoten dan profesional mengelola (manajemen) keuangan daripada seorang sarjana komunikasi.
Untuk memperkuat analogi di atas, Jubir sebagai profesi merupakan turunan public relations. Sementara public relations, turunan dari ilmu komunikasi.