LIPUTAN12.ID|BLITAR – Perjalanan hidup manusia tidak ada yang tahu. Jika Tuhan sudah berkehendak ingin mengangkat martabat seorang hambanya menjadi lebih baik, apapun tidak yang bisa menahan. Seperti yang dialami Mujiadi, warga Dusun Krajan RT 12 RW 03 Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Blitar, Jawa Timur.

Seperti dikutip dari Detik.com, Statusnya sebagai seorang penggali kubur kini berubah. Setelah pria berusia 50 tahun ini terpilih sebagai kepala desa dalam pemilihan yang digelar Oktober lalu. Dan pada hari Jum’at 13 Desember 2019 kemarin pria yang akrab disapa Muji tersebut baru saja dilantik.

“Ngapunten sanget Mbak. Kulo niki tiyang utun. Dereng saget birokrasi (maaf sekali, saya ini orang desa. Belum bisa birokrasi),” ujar Muji.

Dari cara berpakaian dan menyusun kalimat, benar-benar terlihat lelaki ini seorang petani desa yang lugu dan sederhana. Menjadi seorang kepala desa (kades) sejatinya tak pernah dia cita-citakan. Alasannya tidak punya kemampuan birokrasi.Namun wargalah yang mendorongnya, bahkan mendaftarkannya menjadi pemimpin di desa mereka.

“Setiap ketemu warga saat menggali kubur, mereka selalu bilang, wes Pak Ji sampean ae sing dadi kades (sudah Pak Ji, bapak saja yang jadi kades),” katanya membuka cerita.

Mujiadi Setiap jenazah jika ada orang meninggal, dia lah yang mengurusnya. Menariknya, tak sedikit pun Muji berharap pemberian.Dia akan datang lebih awal ke makam untuk menggali dan menyiapkan lubang untuk pemakaman jenazah warga yang meninggal.

Padahal di desa dengan empat dusun itu terdapat lima lokasi pemakaman. Tak peduli dia warga satu dusun atau berbeda dusun, Muji selalu menggali kubur membantu keluarga yang berduka.

“Bagi saya, kalau takziah di rumah duka itu kan hanya nongkrong saja. Lha badan saya masih sehat masih kuat. Kan lebih baik saya ke makam, gali tanah siapkan lubang untuk pemakaman,” ungkap pria lulusan STM ini.

Sejak 2003, pekerjaannya sebagai penggali kubur telah ditekuni Mujiadi. Lahannya yang berdekatan dengan areal makam membuatnya tahu setiap ada warga yang meninggal dan membutuhkan lokasi pemakaman. Kepedulian pada lingkungan dan jiwa sosial inilah yang membawa Mujiadi naik derajat menjadi seorang kepala desa.