Foto: Bunga Monica Harvira, Siswi Kelas 11 (kelas 2) SMAN 1 Rengat, Indragiri Hulu.

INDRAGIRI HULU|LIPUTAN12 – Adanya Negara yaitu adanya Wilayah, adanya Rakyat dan adanya pemerintahan atau adanya kerajaan. Begitu juga adanya sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara diharapkan bisa mendengar. Negara jangan hanya bisanya bicara. Demikian dikatakan pak Mirwan salah seorang warga Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Rabu (9/9/2020).

Ia menilai, bahwa jam pelajaran begitu panjang dan mata pelajaran begitu banyak di sekolah. Selain itu siswa dibebankan tugas Pekerjaan Rumah (PR).

Sekarang ini cetusnya, di Sekolah Dasar (SD) misalnya, mata pelajaran diberi kurikulum tahun 2013. Dimana siswa diberi pelajaran berupa pelajaran Tema 1 sampai Tema 4. Dan dari tema 1 sampai Tema 6.

Di dalam pelajaran buku Tema dimuat berbagai mata pelajaran. Siswa disuguhkan pelajaran yang sangat susah dan seharusnya bukan mata pelajaran anak SD.

Pelajaran di Tema dan kemudian siswa dibebankan tugas PR di rumah. Banyak pelajaran siswa SD sekaran dinilainya sama dengan pelajaran ketika di SMA/SMEA di era tahun 1980 an.

“Ada siswa pusing kepala saat mengerjakan PR yang ditugaskan. Soal-soal banyak sekali dan pertanyaannya persis mata pelajaran SMA/SMEA era tahun 1980 an,” paparnya.

Begitu juga dengan siswa SMA dan SMK sekarang. Mereka sekolah dari pagi sampai petang hari. Suatu waktu yang membosankan dan melelahkan.

Di SMA/SMK diberi waktu belajar di sekolah dari hari Senin hingga hari Jumat. Waktu yang panjang belajar sampai petang melelahkan. Mereka dilarang belajar tambahan di sekolah maupun di hati Sabtu dan hari Minggu. Karena hari Sabtu dan hari Minggu adalah waktunya berkumpul bersama keluarga.