Sekilas Makan Bergizi Gratis
“Makan Bergizi Gratis atau yang sebelumnya dikenal dengan Makan Siang Gratis menjadi program unggulan Prabowo-Gibran dalam kontestasi Pemilu 2024 yang lalu dengan tujuan utama meningkatkan kualitas gizi anak usia sekolah (aspek kesehatan).
Perubahan nama ini diumumkan secara resmi pada 23 Mei 2024 yang lalu, dengan mempertimbangkan penyesuaian jam sekolah siswa usia TK dan SD. Program ini menjadi begitu populer dari dua hal, yang pertama secara substansi dan yang kedua secara politik.
Secara substansi, program ini menjadi cukup populer mengingat kualitas sumber daya manusia Indonesia yang masih relatif rendah dengan IPM pada peringkat 130 (dari 199 negara) dan peringkat 6 ASEAN, sehingga intervensi nutrisi nampak seakan-akan sebagai jawaban bagi masalah sumber daya mausia dalam kacamata Prabowo-Gibran.
Yang kedua secara politik yang terkesan gimmick”, di mana kata gratis cukup efektif untuk setidaknya menarik perhatian publik yang literasinya juga masih rendah, di mana UNESCO (2024) merilis indeks minat baca Indonesia hanya berada di kisaran 0,001% (Hanya 1 dari 1.000 orang yang minat membaca).
Padahal dalam konteks yang lebih holistik, tentunya tidak ada yang gratis. Mungkin istilah yang lebih relevan adalah Makan Bergizi Ditanggung Negara, di mana sebenarnya rakyat juga yang akan dibebani oleh program makan bergizi dengan kisaran anggaran yang begitu mahal.
Lebih Holistik Memandang Kualitas Sumber Daya Manusia.
Memandang masalah kualitas sumber daya manusia, khususnya kesehatan, tidak akan pernah terlepas dari perdiskusian mengenai stunting dan maternal mortality, selain dari masalah malnutrisi yang dijawab melalui program makan bergizi gratis.
Secara umum, stunting sangat dipengaruhi oleh tiga hal, yang pertama adalah nutrisi yang dikonsumsi ibu saat hamil, serta yang kedua adalah pemberian ASI secara eksklusif kepada bayi di 6 bulan pertama dan itu sangat dipengaruhi lagi oleh nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu.