SUMENEP I liputan12 - Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh dipahami sebatas simbol seremoni, melainkan harus menjadi kompas hidup, terutama bagi generasi muda.

“Kesaktian Pancasila tidak ditentukan oleh upacaranya, melainkan dari konsistensi kita menjadi pedoman menghadapi derasnya globalisasi dan banjir informasi digital,” ujarnya dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2025, Rabu (1/10/2025).

Menurutnya, makna kesaktian Pancasila justru terletak pada bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, mampu menjadikannya pedoman hidup di tengah derasnya arus globalisasi dan banjir digital.

“Kesaktian Pancasila bukan di panggung upacara, tetapi pada cara kita menjadikannya kompas kehidupan sehari-hari. Itu yang harus terus kita buktikan,” ujarnya.

Sebagai pucuk pimpinan Bakesbangpol, ia menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga keutuhan bangsa dari ancaman polarisasi, radikalisme terselubung, hingga maraknya disinformasi.

Baginya, generasi muda harus ditempa dengan nilai-nilai Pancasila agar tidak mudah terjebak pada arus negatif era digital.

“Generasi muda jangan berhenti pada hafalan Pancasila. Mereka harus menghidupinya dalam keseharian—mulai dari cara bergaul, di ruang kelas, hingga bagaimana mereka bijak menggunakan media sosial,” tegasnya.

Di bawah kepemimpinannya, Bakesbangpol Sumenep aktif menggulirkan program pelatihan wawasan kebangsaan, pendidikan politik, hingga literasi digital di kalangan pelajar, pelajar, dan komunitas masyarakat. Langkah ini menjadi bukti keseriusannya dalam memastikan ideologi Pancasila tetap relevan di tengah perubahan zaman.

“Pancasila adalah jantung bangsa ini. Kalau kita abai, ia hanya akan menjadi seremoni tahunan. Tapi bila kita konsisten, maka ia akan menjadi kekuatan bangsa yang tak tergoyahkan,” tutupnya.