SUMENEP I liputan12 - Suasana kemeriahan peringatan HUT ke-80 RI di Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, tiba-tiba berubah menjadi polemik. Bukan soal karnavalnya, melainkan penampilan joget “Sound Horeg” yang diduga ditampilkan peserta dari Puskesmas Pragaan.
Aksi itu menuai kecaman keras dari kalangan Tokoh Kiai dan tokoh masyarakat, hingga Aktivis Senior, Mereka menilai penampilan tersebut merugikan martabat pesantren dan nilai budaya Madura. Namun, sebagian aktivis berpendapat berbeda, menilai persoalan ini terlalu dibesar-besarkan.
Kecaman datang dari Sekretaris Badan Silaturrahim Ulama Madura (BSU), KH. Sufyan Absyi. Ia mengaku terkejut sekaligus marah saat menerima kiriman video penampilan sejumlah perempuan yang berjoget mengikuti musik di acara karnaval.
“Terus terang saya sangat menyesalkan. Perempuan-perempuan itu, yang katanya utusan dari Puskesmas Pragaan, tampil dengan pakaian ketat dan berjoget Horeg di depan umum.
Menurut Kiai Sufyan, yang lebih memprihatinkan adalah tindakan yang dilakukan oleh instansi pemerintah.
“Puskesmas itu lembaga masyarakat, harusnya memberi teladan. Kalau justru tampil vulgar, apa yang bisa diharapkan dari masyarakat awam? Ini bukan sekedar hiburan, tapi berdiskusi terhadap agama dan budaya Madura. Naudzubillah. Tidak boleh dibiarkan, harus ada tindakan tegas dari Pemkab sumenep. Tampil dengan Pawai kebudayaan, kearifan lokal kan kebih baik,” tegasnya.
Kiai Sufyan juga mengingatkan, Pragaan adalah kawasan dengan identitas keislaman kuat, yang dinaungi pesantren besar seperti Al-Amien Prenduan, Al-Muqri, dan Al-Ihsan juga yang lainnya yang ada di Daerah Kecamatan Pragaan.
"Di sini ada ribuan santri yang dididik menjaga adab dan kehormatan. Lalu ada tontonan semacam itu di jalan, disaksikan anak-anak. Bagaimana perasaan para kiai dan wali santri? Ini aib besar bagi Pragaan. Kalau panitia dan pihak kecamatan tidak tegas, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan," tambahnya.
Namun, suara berbeda datang dari Ainur Rahman, aktivis asal Sumenep. Menurutnya, polemik joget ibu-ibu dalam karnaval itu terlalu dilebih-lebihkan.