SUMENEP I liputan12 – Viral aksi sejumlah perempuan yang berjoget diiringi musik Sound horeg saat Pawai Budaya memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, menuai protes dari berbagai masyarakat dan sejumlah kiai. Mereka menilai aksi tersebut kurang pantas ditampilkan di ruang publik.

Menanganggap polemik itu, senior aktivis asal Sumenep, Ainur Rahman, justru menyayangkan adanya pihak yang terlalu membesar-besarkan persoalan joget tersebut. Menurutnya, kegiatan itu jauh lebih positif dibandingkan fenomena hiburan lain yang jelas-jelas berpotensi merusak moral masyarakat.

"Di tengah euforia perayaan Agustusan, pemandangan ibu-ibu berjoget dengan pakaian sopan dan tertutup seharusnya dilihat sebagai contoh nyata kegiatan positif. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana edukasi dan promosi gaya hidup sehat. Ironisnya, hal yang dimulai justru dipermasalahkan," ujar Ainur Rahman kepada Media ini, Selasa (26/8/2025).

Ainur Jangguk panggilan Karibnya menegaskan, jika ingin mengkritisi, seharusnya perhatian lebih diarahkan pada aktivitas-aktivitas lain yang dinilai tidak selaras dengan nilai kesopanan.

“Kalau mau dibatasi, ya sebaiknya yang jelas-jelas mengganggu kenyamanan dan akhlak masyarakat, misalnya joget di tempat karaoke bersama LC, atau jingkrak-jingkrak di diskotik lokalan di kabupaten ini. Itu yang lebih layak dikritisi. Jangan masalah kecil dibesar-besarkan, sementara masalah besar malah diam seribu bahasa,” tegas Aktivis yang Getol mendengarkan Kasus BSPS di Sumenep.

Sementara itu, H. Ibnu Hajar yang juga dikenal sebagai guru SMA Aktivis Ainur Rahman menyampaikan pesan moral agar masyarakat tetap menjaga hati dari perbuatan yang dilarang agama.

“Untuk mencegah hati dari kemungkaran, kita bisa memperbanyak shalat dengan khusyu', membaca Al-Qur'an, berdzikir, serta melawan upaya kemungkaran. Bisa dengan kekuatan, dengan lisan berupa nasihat, atau paling tidak dengan hati, yakni membencinya jika tidak mampu dengan cara lain,” tuturnya.

Ibnu Hajar yang juga sebagai budayawan senior Sumenep memberikan wejangan khusus kepada mantan siswanya itu.

"Sebagai mantan guru sekaligus sahabat di dunia Aktivis, saya hanya ingin berpesan kepada Ainur Rahman, teruslah menjaga keutuhan dan jangan pernah menyuarakan kebenaran. Kritik boleh tajam, tapi harus tetap dilandasi dengan niat memperbaiki, bukan memperkeruh. Ingat, seorang aktivis sejati adalah ia yang mampu menjadi penyejuk, bukan sekadar penggugat," tandasnya.