JAKARTA I LIPUTAN12 - Sama seperti perusahaan BUMN lainnya, dalam melakukan promosi dan sosialisasi, PT PLN (Persero) juga kerap memanfaatkan berbagai perangkat media dalam melakukan promosi dan sosialisasi di bawah pengelolaan Divisi Komunikasi.
Bagi perusahaan plat merah ini, selain menyebar rilis berita ke media elektronik dan online, cara promosi dan sosialisasi efektif yang kerap digunakan adalah dengan memproduksi video pendek berdurasi antara 1 hingga 3 menit. Harapannya, agar apa yang mau disampaikan ke masyarakat pelanggan, bisa cepat dipahami.
Tapi bukan hal itu yang mau dibahas. Fokus pembahasan adalah terkait pengelolaan itu semua. Karena berdasarkan investigasi, semua itu bukan dilakukan oleh perangkat Divisi Komunikasi PLN secara mandiri, melainkan melibatkan vendor yang disebut sebagai perusahaan.
Belakangan tersiar nama PT Sahitya Amartya Konsultama (SAK). Perusahaan inilah yang disebut-sebut sebagai vendor 'anak emas' dalam memproduksi berbagai rilis berita dan video tersebut.
Bahkan selama Darmawan Prasodjo menjabat sebagai Direktur Utama, kabarnya PT SAK nyaris memonopoli seluruh proyek pembuatan video untuk kebutuhan PLN. Lantas bagaimana sepak terjangnya selama 3 tahun terakhir sejak beraktivitas di PLN.
Sumber yang layak dipercaya di lingkungan Kantor PLN Pusat, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan menyebutkan, sejak PT SAK mengerjakan proyek berita dan video, semua vendor, termasuk yang sudah lama bekerjasama dengan PLN, langsung disingkirkan sekalipun tarif satu paket video yang dipatok perusahaan itu jauh dari harga normal.
"Semua atas arahan Dirut dan didukung penuh oleh EVP Komunikasi & TJSL PLN Gregorius Adi Trianto. Sekalipun hasil video produksi dari vendor lain kualitasnya lebih baik, tapi Dirut maunya PT SAK yang memproduksinya," ungkap sejumlah sumber di PLN Pusat yang minta identitasnya dirahasiakan.
Yang mencurigakan lagi, lanjut sumber, harga selangit yang ditawarkan PT SAK tidak pernah dipermasalahkan PLN. Artisnya, semua penawaran lawar di-ACC tanpa penawaran atau negosiasi.
"Misalnya vendor lain mengajukan tawaran Rp60 juta pervideo, tapi tidak dipakai juga, sedangkan PT SAK meski harganya antara 90 hingga 100 juta pervideo, tapi pekerjaan diberikan kepada perusahaan ini, anehkan. Dan tarif itu belum include dengan biaya dubbing (mengisi suara video) ya. Itu harganya biasanya dipatok vendor itu sama sampai Rp90 juta," sebut mereka.