SUMENEP I liputan12 – Pernyataan anggota DPRD Jawa Timur, Nur Faizin, yang menyoroti maraknya peredaran rokok ilegal di Madura, menuai gelombang kritik. Bukan hanya dari kalangan petani tembakau, tetapi juga dari pengusaha rokok lokal yang menilai ucapannya merugikan dan menyudutkan rakyat kecil.

Seorang petani muda asal Sumenep, Faizi, menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan dan menuduh rakyat Madura. Menurutnya, wibawa negara tidak bisa diukur dari tinggi-rendahnya cukai, melainkan dari cara negara memperlakukan rakyatnya.

"Kalau rakyat kecil terus disudutkan, itu bukan wibawa, tapi dzalim. Integritas tanpa empati bisa berubah menjadi represi. Yang ditekankan bukan cukong besar, tapi kami petani kecil yang menggantungkan hidup dari tembakau," tegas Faizi, Minggu (24/8/2025).

Faizi yang juga sebagai pegiat Media Online ini menjelaskan, maraknya rokok ilegal tidak muncul tanpa sebab. Harga tembakau sering jatuh, pabrikan besar enggan membeli hasil panen, dan jika pun membeli, kualitas selalu dianggap 'kelas dua'. Dalam kondisi itu, pabrik rokok rumahan yang sering dicap ilegal justru hadir sebagai penyelamat.

"Kalau pabrikan besar menutup pintu, siapa yang membantu petani? Pabrikan rumahan memang sering dicap ilegal, tapi mereka menampung hasil panen kami. Apakah itu serta-merta salah? Kalau cukai terus dimasukkan tanpa melihat kondisi ekonomi rakyat, jangan dia bila rokok ilegal makin subur," ujarnya.

Faizi mengingatkan agar isu rokok ilegal tidak dijadikan panggung politik, sementara nasib rakyat kecil justru semakin terhimpit.

"Kebijakan tanpa keberpihakan itu sama saja menindas. Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar kata-kata manis," tegasnya.

Nada serupa juga datang dari Paguyuban Pengusaha Rokok Sumenep. Wakil Ketua Paguyuban, Raosi Samorano, menilai pernyataan Nur Faizin sebagai bentuk heroisme kosong yang tidak berpihak pada rakyat Madura.

"Jangan hanya berteriak soal wibawa negara, sementara rakyat kecil dikorbankan. Heroisme tanpa solusi itu mengkhianati rakyat. Kalau mau bicara tegas, jangan hanya ke pengusaha kecil. Tegaslah juga terhadap kebijakan cukai yang membatasi," kata Raosi.