Foto: M. Iksan B. Aly, M.Si., Akademisi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kie Raha Ternate (dok. Lutfi Teapon/liputan12)
SANANA|LIPUTAN12 – Melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Premium di Kecamatan Mangoli Utara Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara, mendapat sorotan keras dari salah satu Akademisi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kie Raha Ternate, M. Iksan B. Aly, M.Si.
Menurutnya, dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, seharusnya seluruh rakyat Indonesia menikmati dan merayakannya dengan bahagia. Tapi tidak untuk masyarakat Mangoli Utara yang beberapa bulan belakangan ini mengalami kesusahan saat sebagian rakyat Indonesia yang lain merayakan hari kemerdekaan.
“Kesusahan diakibatkan dari melonjaknya harga BBM yang sengaja dilakukan oleh pihak agen. Hal ini sangat meresahkan, bahkan mencekik masyarakat Mangoli Utara karena ketidakwajaran harga yang diperjualkan ke Masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Abang Iksan, kepada liputan12.id, Senin (17/8/2020) via pesan singkat Whatsapp.
Saya kira, lanjut Iksan, dalam hal ini Pemerintah lemah dalam mengelola penjualan BBM bersubsidi di Kepsul, khususnya di Kecamatan Mangoli Utara.
“Sehingga mengakibatkan ada permainan dalam harga penjualan BBM di Mangoli Utara,” kata Iksan.
Dikatakannya, kinerja DPRD Kepsul selaku perwakilan atau representasi dari masyarakat yang harusnya dapat mengambil tindakan keras untuk menangani persoalan melonjaknya harga BBM di Mangoli Utara.
“DPRD selaku lembaga pengontrol pemerintah, seakan tak berdaya dalam menanggapi persoalan ini. DPRD harusnya bisa mengeluarkan rekomendasi pencabutan surat ijin usahanya, karna ini merupakan PR dari DPRD Kepsul,” jelas Iksan.
“Karna yang saya lihat, penolakan yang dilakukan masyarakat, terutama pemuda Mangoli Utara seakan tidak dihiraukan. Padahal sudah jelas bahwasanya akibat dari permainan harga BBM tersebutlah yang membuat masyarakat merasa dipersulitkan dalam keperluan minyak,” tambah Iksan.