SUMENEP I LIPUTAN12 - Memasuki usia ke-756 tahun, Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan arah pembangunan daerah yang berlandaskan pada kekuatan budaya dan pariwisata.

Melalui strategi branding yang terukur dan berkelanjutan, Sumenep berkomitmen memperkuat identitas daerah agar semakin dikenal secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim mengatakan, kekayaan sejarah dan budaya Sumenep merupakan warisan besar yang harus dikelola secara profesional agar memiliki nilai ekonomi dan menjadi kebanggaan masyarakat.

“Branding bukan sekedar slogan, tapi strategi untuk memperkuat citra daerah. Melalui pengemasan yang tepat, potensi budaya dan pariwisata Sumenep bisa menjadi daya tarik ekonomi masyarakat sekaligus membangun kolektif kolektif,” ujar Wabup di sela-sela Upacara Hari Jadi (Harjad) ke-756 Kabupaten Sumenep, di Halaman Kantor Bupati, Jumat 31 Oktober 2025.

Menurutnya, Sumenep memiliki identitas daerah yang kuat dan khas. Lambang daerah berbentuk perisai hijau bergambar kuda persahabatan emas dengan tulisan Sumekar melambangkan semangat, kesuksesan, dan kebijaksanaan. Lambang itu mencerminkan filosofi masyarakat Sumenep yang berani, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai kearifan lokal.

Lebih dari sekedar simbol, Pemerintah Kabupaten Sumenep telah mencanangkan city branding “Sumenep The Soul of Madura”, yang menegaskan bahwa Sumenep adalah kebudayaan jiwa Pulau Madura. Konsep branding ini merepresentasikan kekuatan wisata bahari, religi, dan budaya yang menjadi daya tarik unggulan Sumenep.

“Selain itu, Sumenep juga dikenal sebagai Kota Keris, pengakuan bahwa daerah ini adalah pusat kerajinan keris terbesar di Indonesia. 

Bahkan UNESCO telah menempatkan keris Sumenep sebagai warisan budaya dunia, dengan jumlah empu pembuat keris terbanyak di dunia,” terang KH. Imam Hasyim.

Ia menegaskan, penguatan identitas dan branding daerah bukan hanya untuk promosi kepentingan, melainkan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.