SUMENEP I liputan12 - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep terus memperkuat langkah nyata dalam mewujudkan generasi sehat dan bebas stunting melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Gerakan ini menjadi inovasi kolaboratif yang digagas Dinkes P2KB untuk menyatukan kekuatan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan media dalam satu misi besar: menyiapkan generasi emas Sumenep 2045 yang tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Kegiatan Rapat Koordinasi Tim Pengendalian GENTING digelar pada Kamis (16/10/2025) di Ruang Rapat Potre Koneng Bappeda Sumenep.
Forum ini mempertemukan seluruh pemangku kepentingan lintas sektor yang berperan sebagai Orang Tua Asuh (OTA) bagi keluarga yang berisiko mengalami stunting di berbagai wilayah.
Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, Ellya Fardansah, menegaskan bahwa GENTING bukan sekedar program teknis, namun gerakan moral dan sosial yang diwajibkan dari semangat gotong royong masyarakat Madura.
“Stunting bukan hanya soal gizi, tapi juga pola asuh, pendidikan keluarga, dan perhatian sejak dini. Melalui GENTING, kami ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa setiap anak adalah tanggung jawab bersama,” ujar Ellya.
Ia menambahkan, Dinkes P2KB berkomitmen memperkuat intervensi gizi spesifik dan sensitif melalui sinergi lintas sektor. Langkah ini dilakukan agar program pencegahan tidak hanya berhenti pada sosialisasi, namun berdampak langsung pada perubahan perilaku masyarakat.
"Anak stunting berpotensi kehilangan hingga 11 poin IQ. Ini bukan hanya kerugian bagi keluarga, tapi bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, Dinkes Sumenep tidak berhenti pada angka, tapi fokus pada aksi nyata," tegasnya.
Gerakan GENTING juga berlandaskan pada Keputusan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 329/KEP/G2/2024, yang mengatur panduan pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Dinkes P2KB menjadi penggerak utama penerapan kebijakan ini di tingkat daerah dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis partisipasi masyarakat.