SUMENEP | liputan12 - Di tengah tantangan atmosfer dan harga tembakau yang kerap berfluktuasi, industri rokok lokal di Madura justru menampakkan geliat yang kian menguat. Tidak hanya menjadi tumpuan bagi para buruh linting dan petani, sektor ini kini menjadi salah satu penopang utama roda perekonomian pulau garam.
Diketahuinya, dari data Kantor Bea Cukai Madura mencatat, sedikitnya 273 pabrik rokok baru berdiri dalam beberapa tahun terakhir. Kebanyakan bergerak di segmen rokok kretek linting tangan, yang dikenal sebagai karya padat dan menyerap tenaga kerja manual dalam jumlah besar.
“Industri rokok ini bukan hanya soal produksi, tapi juga tentang kehidupan ribuan orang. Dari petani, sopir, buruh linting, hingga pedagang kecil, semua ikut bergerak,” ujar Kepala KPPBC TMP C Madura, Novian Dermawan, saat menemui ratusan peserta aksi yang mengutuk di depan kantornya, Pamekasan, Rabu (13/8/2025).
Novian menegaskan, keberadaan pabrik-pabrik tersebut telah menurunkan angka kemiskinan dan memicu pertumbuhan ekonomi desa.
“Semakin banyak pabrik yang beroperasi, semakin kecil angka kemiskinan, dan ini berdampak langsung pada menurunnya tingkat kriminalitas,” tegasnya.
Meski demikian, Novian mengakui ada tantangan besar, seperti memastikan kepatuhan terhadap aturan cukai dan anggota melakukan tindakan ilegal.
Menanggapi maraknya isu dugaan “upeti” dari pelaku usaha kepada pihak tertentu yang sempat menyebutkan, ia menyatakan “Bea Cukai siap membangun sistem yang adil, terbuka, dan transparan.”
Suara dari Buruh Pabrik: 'Bekerja Dekat Rumah, Rezeki Lebih Terjamin'.
Salah satu pabrik yang menjadi tumpuan harapan baru adalah PR DRT Group yang ada di Kecamatan Lenteng Sumenep. Sejak berdiri beberapa tahun lalu, pabrik ini menyerap puluhan tenaga kerja lokal, termasuk Endang, seorang ibu rumah tangga.