Oleh: Ade Yasin, Bupati Bogor

LIPUTAN12.ID|Cibinong, BOGOR – Pandemi Covid-19 mengguncang kehidupan manusia di bumi ini. Meski virus ini tak kasat mata, tetapi dapat menciptakan krisis kemanusiaan dan krisis ekonomi.

Krisis kemanusiaan itu tercermin dari bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal dunia setiap hari. Sampai dengan Sabtu (16/5/2020) dini hari, secara global, jumlah orang terinfeksi mencapai 4,4 juta jiwa dan meninggal dunia 302,493 jiwa.

Jumlah ini masih berpotensi bertambah karena belum bisa dipastikan kapan puncak pandemi ini akan berakhir. Vaksin penangkal masih dalam proses uji coba, sehingga untuk mengurangi korban jiwa dan beban sektor kesehatan, maka kebijakan pencegahan menjadi hal yang lebih rasional untuk menekan penyebaran infeksi, baik melalui karantina wilayah kesehatan (PSBB) maupun dengan jaga jarak aman (social distancing).

Meski begitu, kebijakan pencegahan ini memberikan konsekuensi pada melambatnya roda perekonomian. Proyeksi ekonomi Dana Moneter International (IMF) yang dirilis pada awal April lalu menyimpulkan bahwa perekonomian dunia tahun ini akan memasuki fase resesi sepanjang tahun ini. Bahkan, diperkirakan menyerupai krisis besar (great depression) tahun 1930 di Amerika Serikat.

Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi dunia akan kembali pulih tahun 2021. Namun, hal ini terjadi dengan asumsi bahwa pandemi ini akan berakhir di ujung semester I-2020.

Masalahnya, sampai sekarang belum ada permodelan matematika yang akurat untuk menentukan puncak pandemi. Kita sama-sama lihat masih banyak negara yang baru mulai memasuki fase awal serangan. Bahkan, di beberapa negara Covid-19 sedang melakukan serangan gelombang kedua.

Pandemi ini juga memacetkan dan merusak rantai pasok global dan menekan harga komoditas global. Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global ini memberikan tekanan di sektor tenaga kerja.

Organisasi Buruh International (ILO) mengestimasi bahwa pandemi ini akan menambah jumlah pengangguran baru sebanyak 25 juta orang secara global. Situasi yang sama juga telah terjadi di Indonesia, sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa sudah lebih dari jutaan orang mengalami PHK dan dirumahkan.