LIPUTAN12 – Dalam sepanjang sejarah, perempuan dengan segala kehadiran, fungsi dan peran di bumi begitu istimewa. Hingga Rasul Nabi Muhammad SAW berdabda tentang sosok perempuan ini. Sahabat semua pasti sering mendengarnya. “Dunia adala perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Jika seorang wanita, perempuan terdidik dengan percikan iman maka ia akan menjadi bunga yang harum sepanjang zaman. Begitupun sebaliknya, jika wanita tidak didik maka ia hanya akan menjadi fitrah di bumi ini.

Sebagaimana Rasul ingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh hadist riwayat bukhari. Yakni “Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.”

Lalu hubungannya dengan sosok Kartini apa?

Dalam hal hal ini, sosok Kartini bisa menjadi salah satu referensi buat kita (khususnya wanita Indonesia) untuk bisa memberi dampak bagi sekitarnya. Lalu apa yang membuat sosok Kartini ini bisa menjadi wanita yang menginspirasi dalam sejarah Indonesia. Kemudian bagaimana cara kita menjadi seorang Kartini masa kini. Mari kita telusuri.

Pertama, Kartini adalah seorang pejuang. Selain Kartini sebetulnya ada banyak sosok-sosok wanita pejuang di Indonesia. Bahkan sebelum Kartini ini hadir. Masih ingat nama Cut Nyak Dien, Cut Muetia, Laksana Mala Hayati, Rahmah El Yunusiyah, dan lainnya.

Ada juga sosok wanita yang hidup sejaman dengan Kartini. Diantaranya ada Rohana Kudus. Mila tau nama beliau itu dari guru Jurnalis. Beliau mengatakan bahwa seorang Rohana Kudus adalah Jurnalis perempuan asal Sumatera Barat. Rohana juga merupakan wartawan perempuan pertama di Indonesia. Wow keren banget ya.

Kemudian keahlian di bidang Jurnalis ia representasikan menjadi sebuah lembaga bernama Rohana School. Kecerdasan Rohana Kudus tidak terlepas dari kecerasan Ayah dan Ibunya. Ia pun menulis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. MasyaAllah yah.

Kembali ketema awal tentang sosok Kartini. Kedua, Kartini adalah sosok wanita yang rajin menulis. Sudah pasti sosok yang suka menulis tidak jauh-jauh juga bahawa dirinya adlaah orang yang suka membaca. Pada jamannya kaum perempuan tidak mendapatkan hak dalam berpendidikan seperti laki-laki pada umunya.