SURABAYA I LIPUTAN12 – Momentum Halal bihalal 1 Syawal 1447 Hijriah dimanfaatkan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur untuk menegaskan kembali kedekatan sejarah dan ideologi dengan Nahdlatul Ulama (NU), Minggu (12/4/2026).
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah, menyebut Jawa Timur sebagai ruang temu dua arus besar kekuatan sosial-politik, yakni kalangan santri dan nasionalis yang populer dengan istilah “ijo-abang”.
Menurutnya, hubungan keduanya bukan sekedar koeksistensi, melainkan telah membentuk struktur sosial yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
“Relasi santri dan nasionalis di Jawa Timur bukan hubungan yang artifisial. Ia tumbuh secara organik dan telah mengakar hingga ke tingkat desa, menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, polarisasi antara kelompok santri dan abangan yang sempat menguat pada era 1950-an kini semakin mencair seiring perkembangan sosial dan politik.
Apalagi, kata Said, berbagai hasil survei menunjukkan adanya preferensi politik, di mana sebagian warga NU turut memberikan dukungan kepada PDI Perjuangan.
“Realitas sosial hari ini menunjukkan batas-batas itu semakin cair. Ada irisan yang kuat antara dasar santri dan nasionalis dalam menentukan pilihan politik,” katanya.
Atas dasar itu, ia menegaskan komitmen politik partainya untuk menjaga kedekatan tersebut.
“Oleh karena itu, PDI Perjuangan khususnya di Jawa Timur, tidak memiliki alasan untuk menjauh dari NU. Justru hubungan ini harus dijaga dan diperkuat secara berkelanjutan,” tegasnya.

