NASIONAL I LIPUTAN12 - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, MH Said Abdullah, menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam posisi aman, terkendali, dan jauh dari ancaman krisis fiskal sebagaimana berkembang dalam sejumlah spekulasi publik belakangan ini.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah munculnya kekhawatiran terkait kondisi keuangan negara, termasuk isu menipisnya saldo anggaran dan potensi defisit APBN yang disebut-sebut dapat menembus batas aman.

Dalam keterangannya, Senin (11/5/2026), Said meminta masyarakat menyikapi berbagai analisis fiskal secara proporsional, tanpa terjebak pada narasi yang dapat memicu ketakutan berlebihan.

“Kritik, masukan, dan alarm kekhawatiran dari akademisi maupun pengamat ekonomi harus dihargai sebagai bagian dari kontrol publik terhadap keuangan negara. Namun, kondisi fiskal Indonesia saat ini masih berada dalam koridor yang aman dan terkendali,” ujar Buya Said Panggilan akrabnya.

Ia menegaskan, pemerintah masih memiliki kapasitas fiskal yang mampu menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah tekanan global, mulai dari gejolak pasar internasional hingga dinamika nilai tukar rupiah.

Banggar DPR mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh sebesar 5,6 persen. Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi indikator kuat bahwa fondasi perekonomian nasional masih terjaga dengan baik.

Momentum Ramadhan dan Idulfitri disebut menjadi salah satu penggerak utama konsumsi domestik, yang mendorong aktivitas perdagangan, industri pengolahan, transportasi, perhotelan, serta sektor jasa makanan dan minuman.

Selain konsumsi masyarakat, percepatan realisasi belanja pemerintah juga berperan signifikan dalam menopang pertumbuhan.

Hingga akhir kuartal I 2026, belanja negara tercatat mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.