PALEMBANG I LIPUTAN12 - Penguatan kesehatan mental keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus (ABK). Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk The Power of Mind di Sekolah Inklusi Bina Asih Palembang pada 18 Juli 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pendalaman materi dan diskusi interaktif di Hotel Winer Palembang pada 19 Juli 2026.

Kegiatan yang diikuti orang tua anak berkebutuhan khusus, guru, dan pemerhati pendidikan inklusif itu menghadirkan narasumber H. Muhammad Dian Anwar, Sainudin, M. Ifan Fauzi, Hardina, Syafiq, dan Asiawatie. Seluruh narasumber merupakan mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Asiawatie juga merupakan Pembina Yayasan Bina Asih Palembang.

Mengangkat tema The Power of Mind, kegiatan tersebut mengajak peserta memahami pentingnya membangun pola pikir positif sebagai dasar dalam membentuk sikap, perilaku, serta ketahanan mental keluarga. Para peserta juga diajak berdialog mengenai peran keluarga dan sekolah dalam mendukung perkembangan anak berkebutuhan khusus.

H. Muhammad Dian Anwar mengatakan setiap perubahan berawal dari cara seseorang mengelola pikirannya. Menurutnya, pikiran yang dipenuhi sugesti positif akan melahirkan sikap dan tindakan yang positif dalam kehidupan sehari-hari.

"Pikiran adalah pusat kendali kehidupan. Apa yang terus kita tanamkan dalam pikiran akan memengaruhi cara kita bersikap, berbicara, mengambil keputusan, hingga memperlakukan orang lain. Ketika kita membangun sugesti yang positif, maka energi positif itulah yang akan lahir dalam kehidupan kita. Anak-anak istimewa pun akan berkembang lebih optimal ketika mendapatkan dukungan dengan cara yang tepat dari keluarga dan lingkungannya," ujar Dian.

Sainudin mengatakan penguatan mental keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan inklusif. Menurutnya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang menerima, menghargai, serta memberikan kesempatan sesuai dengan potensi yang dimiliki.

"Pendidikan inklusif bukan sekadar membuka akses belajar bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi membangun budaya yang menghargai setiap anak tanpa diskriminasi. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif," kata Sainudin.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan ilmu psikologi yang aplikatif dan bermanfaat bagi keluarga.

Sementara itu, M. Ifan Fauzi mengingatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.