JAKARTA I LIPUTAN12 - Memiliki keluarga atau kerabat pejabat tinggi di instansi plat merah apapun di Indonesia, ternyata selain bisa mendapatkan keuntungan besar, juga bisa menentukan arah hidup seseorang di masa depan.

Sekalipun dianggap masuk dalam kategori KKN, namun tudingan itu acapkali hanya dinilai sebagai suara sumbang yang tidak perlu digubris.

Masalah ini pula yang kini menjadi gunjingan di PT PLN (Persero), menyusul bertenggernya nama Pratama Adieputra Suseno dalam jajaran pejabat tinggi PLN yang menduduki posisi Executive Vice Presiden (EVP) Manajemen Digital (MDG).

Sayangnya, bukan karena prestasi dalam meniti karir jabatan bergengsi itu diraihnya. Namun keberadaannya di PLN karena rekrutmen dari profesional hire (Pro Hire) yang tentunya sah-sah saja dalam sebuah korporasi termasuk BUMN.

Tapi menjadi aneh, karena sebagai jabatan karir yang tertinggi di PLN, posisi EVP seperti 'agak lain' jika dipercayakan kepadanya secara mudah.

Di struktur jabatan PLN, EVP merupakan posisi manajemen atas yang setara dengan General Manager. Dan umumnya, posisi tersebut bisa diraih bagi pegawai PLN yang hampir memasuki paripurna, setelah bertahun-tahun meniti karir dari dasar atau on job training alias OJT.

Tapi tidak halnya dengan Pratama. Jika ditilik dari nomor induk pegawainya, pria itu masih berusia 30 tahun karena tercantum jelas kelahiran tahun 1994. Lalu terlihat pula bahwa dia baru masuk PLN pada tahun 2023 atau baru setahun. Pertama kali ia ditempatkan sebagai Vice President (VP) di Icon Plus hingga tak lama kemudian belum genap setahun langsung menjadi EVP.

Lantas, bagaimana bisa seorang pejabat pro hire yang masih berusia belia, bisa langsung menduduki jabatan tertinggi dalam struktur kepegawaian di PLN?.

Belakangan terendus, ternyata Pratama Adieputra bukanlah orang sembarangan. Dia adalah kerabat dekat dari Dirut PLN Darmawan Prasodjo. Bahkan menurun sumber yang sangat layak dipercaya, Pratama merupakan keponakan Ny. Diny Darmawan Prasodjo, yang tak lain adalah istri sang Dirut. Jika demikian, tentu menjadi sesuatu hal yang tak mengherankan dan 'No Debat' kenapa jabatan itu bisa diraihnya.