SUMENEP I LIPUTAN12 - Momentum Hari Raya Idulfitri kerap diiringi melalui pengeluaran rumah tangga. Kondisi tersebut sering membuat masyarakat kurang cermat dalam mengelola keuangan, sehingga Tunjangan Hari Raya (THR) habis tanpa perencanaan yang matang.
Melihat fenomena itu, PT BPRS Bhakti Sumekar meningkatkan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat. Bank milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep tersebut mengimbau agar penggunaan THR direncanakan secara bijak sejak awal.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, H. Hairil Fajar, menegaskan bahwa THR seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif saat Lebaran, melainkan juga sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan finansial.
“THR bukan sekedar tambahan penghasilan yang dihabiskan dalam waktu singkat. Jika tidak dikelola dengan baik, justru berpotensi menimbulkan masalah keuangan setelah Lebaran,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Ia menekankan, perencanaan keuangan yang sederhana namun disiplin dapat membantu masyarakat menjaga keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.
“Kunci utamanya adalah disiplin dalam membagi pos pengeluaran. Dengan perencanaan yang jelas, masyarakat tetap bisa merayakan Lebaran dengan nyaman tanpa mengorbankan stabilitas keuangan,” tambahnya.
Tak Sekadar Tradisi, Festival Ketupat 2026 di Sumenep Bidik Wisatawan dan Kesejahteraan Warga
Hairil Fajar menyarankan agar THR dibagi ke dalam beberapa pos utama. Sekitar 40 persen dapat dialokasikan untuk kebutuhan lebaran, seperti konsumsi keluarga, pakaian, dan tradisi lainnya.
Selanjutnya minimal 30 persen disisihkan untuk tabungan atau dana cadangan. Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk menghadapi kebutuhan tak terduga setelah perayaan Idulfitri.
“Setidaknya 30 persen harus ditabung. Dana ini bisa menjadi penyangga ketika ada kebutuhan mendesak, sehingga masyarakat tidak perlu bergantung pada utang,” tegasnya.

