SUMENEP I LIPUTAN12 - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Sumenep dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir di sejumlah titik, terutama di kawasan daratan rendah dan dekat aliran sungai. Sejumlah rumah warga terancam penyimpanan udara, dan aktivitas masyarakat terganggu.
Bahkan, beberapa daerah yang sebelumnya aman dari luapan air, kini ikut terdampak. Hal ini disampaikan oleh Akhmadi Yasid, anggota Komisi III DPRD Sumenep dari Fraksi PKB.
Pihaknya menyebut bahwa, selain curah hujan tinggi, adanya aktivitas tambang Galian C juga turut memperparah kondisi banjir.
“Kerusakan lingkungan akibat Galian C membuat tanah tidak mampu lagi menyerap udara secara optimal.Aliran udara yang mestinya tertahan dan meresap justru langsung mengalir deras ke organisasi,” ujar Akhmadi Yasid.
Tambang Galian C yang berada di wilayah perbukitan Sumenep diduga telah mengubah struktur tanah dan menyebabkan sedimentasi di sungai-sungai sekitar. Akibatnya, kapasitas tampung sungai menurun dan memicu luapan air saat hujan turun deras.
Yazid menyampaikan bahwa, Saat ini Situasinya sudah darurat. Banjir kini tidak hanya terjadi di pusat perkotaan, seperti Jl Trunojoyo, sekitar Museum, Taman Bunga, dan Jl Pabian, tapi juga meluas ke daerah penyangga seperti Desa Kebonagung, Batuan, Babbalan, hingga Patean,” paparnya.
Ia menekankan bahwa permasalahan banjir ini tidak cukup ditangani dari sisi hilir saja, seperti perbaikan drainase.
Menurutnya, akar masalah berada di hulu, terutama buruknya tata kelola lingkungan.
"Kondisi daerah resapan air di Batuan sudah sangat minim, akibat aktivitas penambangan galian C ilegal. Dulu di beberapa daerah ini aman dari banjir, sekarang justru menjadi salah satu yang paling parah. Tanpa area resapan, hujan air langsung berubah menjadi air bah," tegasnya.