SUMENEP I liputan12 - Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terus mendorong pelestarian budaya lokal agar mendapat pengakuan di tingkat global. Salah satunya melalui ritual Jamasan Keris yang rutin digelar di Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menyatakan bahwa prosesi jamasan yang selama tiga tahun terakhir dilaksanakan secara berkelanjutan layak diusulkan menjadi bagian dari kalender budaya internasional.
“Selain prosesi jamasan, tahun ini juga kami sampaikan sejarah keris, termasuk masa-masa ketika keberadaannya sempat dilarang,” ujar Fauzi saat menghadiri kegiatan di Desa Aeng Tong-Tong, Rabu (2/7/2025).
Fauzi menegaskan, kegiatan jamasan bukan sekedar seremoni tahunan, melainkan wujud nyata komitmen dalam menjaga dan merawat warisan budaya leluhur masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.
“Prosesi jamasan dan haul pusaka ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk melestarikan peninggalan leluhur dengan cara merawat dan menjaganya,” katanya.
Menurut Fauzi, pusaka bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga simbol kekuatan masa lalu, identitas budaya, sekaligus memiliki nilai ekonomi yang dapat menjadi kebanggaan masyarakat Madura.
“Pusaka, termasuk keris, bukan hanya simbol masa lalu, tetapi juga identitas budaya yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi kebanggaan masyarakat,” imbuhnya di hadapan warga dan para empu keris setempat.
Desa Aeng Tong-Tong telah dikenal sebagai pusat perajin keris nasional dan telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Keris, dengan komunitas empu dan paguyuban yang aktif melestarikan nilai budaya.
Bupati Fauzi mengapresiasi komitmen masyarakat yang konsisten menjaga tradisi tersebut, dan berharap pemerintah pusat memberikan dukungan nyata untuk pelestarian budaya lokal.