Diduga Cacat Hukum, Lakpesdam PCNU Minta Transparansi Pemkab Sumenep Soal Review RTRW

0
37
Moh. Eryanto, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep, (dok. Kachonk/liputan12).

SUMENEP | LIPUTAN12 – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur meminta pemerintah daerah kabupaten Sumenep untuk melakukan kajian ulang dan komperehensif terhadap rencana penambahan konsesi pertambangan fosfat di dalam review Rencana Tata Ruang Wilayah RT/RW tahun 2013-2033.

Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Sumenep, Moh Ekoyanto menyampaikan bawa pada Peraturan Daerah (Perda) nomor 12 tahun 2013 sudah terdapat pasal – pasal yang saling bertentangan.

Menurutnya, ketentuan umum pada pasal 1 ayat 32 disebutkan, kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.

“Kalau sudah seperti itu, seharusnya pemerintah harus mengkaji ulang lagi, bukan malah berencana akan menambah titik zona penambangan. Kalau tetap dilakukan maka dampaknya akan menjadi bencana terhadap lingkungan sekitar,” ungkap Moh Ekoyanto, Jum’at (5/2/2021).

Di samping itu, Eko menjelaskan bahwa dalam Perda itu ada Kawasan Peruntukan Pertambangan Pasal 40 seperti pertambangan mineral, pertambangan minyak dan gas bumi dan kawasan potensi panas bumi. Hal ini pertambangannya berada pada beberapa titik sebagaimana di sebutkan pada Kawasan Rawan Bencana Alam di Pasal 28 meliputi, bencana longsor, bencana banjir, bencana angin puyuh dan kawasan rawan bencana gelombang pasang.

Apalagi, kata dia, dalam wilayah beberapa titik pertambangan itu, terdapat pada Kawasan Lindung Geologi yang tercantum pada Pasal 33 seperti kawasan cagar alam geologi yang berupa kawasan lindung karst. Padahal bentang gugusan bebatuan kars merupakan kawan lindung, dan sudah ditetapkan sebagar warisan dunia oleh UNESCO yang harus dilindungi dan jauh dari aktivitas pertambangan

Gugusan bebatuan kars sendiri, dalam Peraturan Pemerintah (PP), Nomor 26 Tahun 2008 tentang recana tata ruang wilayan nasional, ditetapkan sebagai kawasan lindung nasional karena termasuk dalam kawasan yang memiliki keunikan bentang alam. Itu terdapat pada pasal 52, 53 dan pasal 60.

Namun salah satu kecamatan yang memiliki kawasan lindung batu kars seperti kecamatan Batu Putih dimasukkan kembali ke dalam draf review, dan dalam Perda RTRW 2013-2033 sebelumnya sudah ditetapkan sebagai daerah kawasan lindung yang secara bersamaan juga diperuntukkan untuk pertambangan fosfat

Hingga kini pemerintah hanya belum membuka secara transparan kepada publik titik lokasi pertambangan. Pemerintah hanya menyebutkan dalam skup kecamatan, yakni kecamatan Batu Putih, Ganding, Manding, Lenteng, Guluk-guluk, Gapura dan Bluto, serta Kecamatan Arjasa.

Bahkan dikabarkan dalam review RTRW 2013-2033 yang diajukan oleh pihak Bappeda Sumenep saat ini, ditambah 9 kecamatan lagi. Setidaknya, kata eko, Pemerintah daerah harus memikirkan terhadap dampak bencana yang akan terjadi pada lokasi pertambangan sekitar.

“Kalau ini terpaksa dilakukan (ditambang), apa jadinya apabila pegunungan yang kemudian dikeruk atau bebatuan yang menjadi daya serap air diambil. Otomatis ketika hujan, maka akan terjadi banjir kemudiaan ketika musim kemarau diperkirakan kita akan kekurangan air,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, di Lakpesdam sendiri sampai saat ini masih mengkaji terkait RTRW tersebut, sehingga ia berharap dalam mereview RTRW 2013-2033 pemerintah daerah harus melibatkan masyarakat didalam proses perubahannya itu. Sehingga warga bisa tau tentang bagaimana prosedur – prosedur yang dilakukan pemerintah kabupaten Sumenep.

“Terutama masyarakat yang menjadi titik lokasi pertambangan, baik itu tokoh masyarakat maupun organisasi keagamaan harus dilibatkan, sehingga ada dialog dan memberikan pemahaman terhadap masyarakat, agar masyarakat tidak jadi korban terhadap dampak pertambangan,” pungkasnya.

Redaktur       : Lekat Azadi
Copyright© liputan12 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here