ASICS dan Olimpiade Tokyo-Jepang 2020

0
62

“Asics Mendapatkan Keuntungan Lebih dengan Menjadi Sponsor Utama Olimpiade Tokyo. Tetapi Pekerja Tidak Mendapatkan Apa-Apa dan Bekerja dalam Kondisi yang Lebih Buruk untuk Memproduksinya”

Olimpiade Tokyo-Jepang 2020 setelah mengalami penundaan karena pandemi Covid-19, akhirnya digelar (dilaksanakan) mulai tanggal 23 Juli – 8 Agustus 2021. Ajang olahraga bergengsi dunia ini diselenggrakan setiap empat tahunan. Saat ini diikuti oleh 200 negara peserta, 11.090 altet mempertandingkan 33 cabang olah raga dengan 339 nomor tanding.

Untuk penyelenggaraan Olimpiade Tokyo-Jepang 2020 ada puluhan bahkan ratusan perusahaan yang menjadi sponsor suksesnya kegiatan ini, salah satunya ASICS Corporation produsen (salah satunya sepatu) barang-barang olahraga terkemuka asal Jepang menjadi salah satu Sponsor penyelenggaraan Olimpiade Tokyo Jepang 2020.

Dilansir dari https://kbr.id/olahraga/07-2013/dua_perusahaan_jadi_sponsor_tokyo_untuk_olimpiade_2020/31993.html. Bahkan ASICS menjadi mitra Emas Kesepuluh Tokyo 2020, sebagaimana di rilis di laman resmi Olimpiade Jepang. https://olympics.com/tokyo-2020/en/organising-committee/marketing/sponsors/

Di ajang Olimpiade, ASICS tidak hanya akan memasok seragam untuk warga negara Jepang. Tim Olimpiade dan Paralimpiade, tetapi juga akan menyediakan seragam untuk para sukarelawan Olimpiade dan mengerahkan pengalaman perusahaan untuk mensukseskan Olimpiade sebagaimana filosopi pendirian dan visi perusahaan (Asics Corp) tentunya juga akan menggelontorkan ratusan miliyaran rupiah untuk kegiatan ini.

Tentang ASICS Corporation

ASICS Corporation didirikan pada tahun 1949 oleh Kihachiro Onitsuka. Terinspirasi oleh pepatah Latin ‘Anima Sana In Corpore Sano’ – pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat – visinya adalah untuk mempromosikan kesehatan kaum muda melalui olahraga. Sebuah ‘True Sport Performance Brand’, ASICS tetap berkomitmen teguh pada filosofi ini hingga saat ini. Melalui pengembangan teknologi baru yang berkelanjutan, ASICS memproduksi alas kaki, pakaian, dan aksesori berkinerja tinggi yang mendukung dan meningkatkan kinerja atletik. Grup ASICS berkantor pusat di Kobe, Jepang dengan lebih dari 50 kantor di seluruh dunia yang mendistribusikan produk ke lebih dari 150 negara. Di Indonesia, ASICS memberikan ordernya pada dua pabrik yaitu:  PT. Pou Chen Indonesia dan Beesco Group. ASICS official website: http://corp.asics.com/en/.

Saat ini ASICS terus memperbesar bisnisnya di Indonesia, salah satunya dengan melakukan relokasi fasilitas pabrik dari Tiongkok ke Indonesia dan akan membangun tiga pabrik di Cirebon di Jawa Barat, Tegal di Jawa Tengah, dan Pemalang di Jawa Tengah untuk melengkapi pabrik yang sebelumnya sudah dibangun di Indonesia. https://www.beritasatu.com/ekonomi/744551/relokasi-tiga-pabrik-asics-ke-indonesia-bisa-serap-15000-tenaga-kerja .

Pelanggaran Hak Buruh dan Masalah Ketenagakerjaan di Pabrik yang Memproduksi Barang-barang Brand ASICS

Kemegahan bisnis ASICS, pasar yang luas, keuntungan yang berlimpah serta dukungan besar untuk kesuksesan Olimpiade 2020, tidak sebanding dengan kenyataan hidup, kondisi dan syarat kerja buruh-buruh diperusahaan (pabrik) yang memproduksi barang-barang brand Asics di Indonesia.

Sebut saja di PT. Beesco Indonesia, Karawang-Jawa Barat Indonesia, yaitu perusahaan milik modal asing (PMA) asal Korea Selatan yang memproduksi alas kaki (sepatu) merk ASICS. PT. Beesco Indonesia berdiri di Indonesia sejak tahun 2006 dan memulai produksi pada tahun 2007. Sebelumnya perusahaan ini bernama PT. Bukyung Indonesia, dan  sejak tahun 2011 berganti nama menjadi PT Beesco Indonesia.

Saat ini tahun 2021 PT. Beesco Indonesia (Karawang) mempekerjakan sekitar 2.700 an buruh. Di mana buruh PT. Beesco Indonesia ditahun 2011 berjumlah 10.000 buruh lebih, tahun 2015 sebanyak 7000 buruh. Dan sejak dari tahun 2015 jumlah buruh terus menurun karena PHK serta Produksi Rubber dan Upper saat itu semua di kerjakan luar PT. Beesco Indonesia di subcon kan keperusahaan lain dan/atau di kerjakan perusahaan Group Beesco lain.

Kantor Pusat PT. Beesco (Beesco World Wide) berada di Negara Korea yaitu di 12 th Floor, 121

Chungnyelodae-ro,Donganae-gu, Busan, Republik of Korea. Selain di Indonesia Beesco juga ada di Vietnam.

Di Indonesia Group Beesco, memiliki setidaknya lima pabrik, diantaranya PT. Beesco Indonesia (Karawang-Jawa Barat), PT Bees Footwear INC (Banten), PT. PA Rubber Indonesia Jaya (Banten), PT. Unicorn Utama, (Kabupaten Bandung-Jawa Barat).  Beesco Group juga kini berekspansi ke Jepara (Jawa Tengah) dengan mendirikan PT. Hwa Seung Indonesia (HSI) dan informasinya juga akan membangun pabrik di Tegal Jawa Tengah.

Pada 2014 karena kelebihan order dari Asics, PT. Beesco Indonesia dan PT. Bees Footwear Inc mensubcon-kan bagian produksinya untuk pembuatan rubber/outsole sepatu ke PT. PA Rubber Indonesia, yang masih satu Group Bessco. Kemudian PT. PA Rubber Indonesia memvendorkan order tersebut ke beberapa pabrik lain, diantaranya PT ASK, PT Myung Sung, PT Kung Kang, dan PT Adi Mitra.

Meskipun ASICS sudah menandatangani Protokol Freedom of Association (FOA) namun Pelanggaran Kebebasan Berserikat (union busting) Masih Terus terjadi diseluruh rantai pasok produksi ASICS di Indonesia termasuk di pabrik-pabrik utama. Barang-barang Asics di produksi dan dihasilkan dengan penuh penindasan dan penghisapan, penuh dengan pelanggaran atas hak-hak buruh, dan pelanggaran atas hukum ketenagakerjaan Indonesia.

Di PT Beesco Indonesia misalkan, tercatat dari medio 2013 hingga 2021 ini, Pelanggaran-pelanggaran terhadap Ketenagakerjaan serta atas hak-hak buruh sangat banyak dan terus terjadi.

Berikut ini adalah masalah-masalah yang ada dan terjadi di PT. Beesco Indonesia:
Sisa Penangguhan Upah Buruh tahun 2013 dan 2014 belum dibayarkan. PT Beesco Indonesia (Karawang), pada 2013 dan 2014 sempat melakukan penangguhan upah dengan cacat (tidak sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia). Dan atas kasus ini di gugat buruh di pengadilan. Buruh di menangkan, dan sudah ada putusan hukum tetap (inkracht van gewijde) atas perkara ini. Namun hingga kini (2021) Putusan tersebut tidak di jalankan atau tidak dilaksanakan oleh perusahaan PT. Beesco Indonesia. Belum terselesaikan.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan semena-mena. PT. Beesco Indonesia tercatat sejak tahun 2012 hingga tahun 2021 ini terus melakukan PHK setiap tahunnya dengan berbagai alasan (buruh dinyatakan habis kontrak, ijazah/dokumen palsu, buruh hamil, efisiensi, berkurangnya order-dllnya) dengan meninggalkan masalah dan pelanggaran hak buruh.

Hingga saat ini (2021) menurut data yang dihimpun SBGTS-GSBI PT. Beesco Indonesia selaku serikat buruh resmi yang berkedudukan di PT. Beesco Indonesia, tercatat seratusan lebih buruh dari PHK yang dilakukan belum diselesaikan hak dan kasusnya oleh perusahaan, misalnya kasus PHK pada tahun 2015, buruh di PHK dengan alasan berkurangnya order dan dinyatakan habis kontrak. Dimana hingga saat ini terdapat 36 (tiga puluh enam) orang buruh (pimpinan dan anggota SBGTS-GSBI) yang MENOLAK di PHK dan bertahan hingga sekarang kasusnya tidak diseesaikan oleh perusahaan.

Selanjutnya kasus PHK pada tahun 2016, dengan alasan yang sama seperti di tahun 2015. di mana hingga saat ini ada 1 (satu) orang buruh Menolak di PHK, bertahan dan terus berjuang.

Berikutnya, kasus PHK pada tahun 2017, yang kasusnya belum terselesaikan dan buruh menolak di PHK dan berlawan serta berjuang hingga hari ini yaitu; sebanyak 54 (lima puluh empat) orang buruh dengan alasan dinyatakan habis kontrak, 19 (sembilan belas) orang buruh hamil, dan 19 (sembilan belas) orang dinyatakan karena dokumen palsu.

Kasus PHK pada tahun 2019 (Juli – Desember 2019) buruh di PHK dengan alasan dinyatakan habis kontrak dan order berkurang. Hingga saat ini ada 14 (empat belas) orang buruh yang MENOLAK di PHK dan tetap bertahan serta berjuang hingga saat ini menuntut untuk di pekerjakan kembali.

Kasus PHK pada tahun 2020, di tahun 2020 ini hampir 3.200 an buruh di PHK dengan alasan karena situasi pandemi Covid 19, perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan order berkurang dari ASICS. Dari kasus  PHK ini hingga saat ini masih ada 14 (empat belas) orang buruh yang MENOLAK PHK, tetap bertahan dan berjuang menuntut di pekerjakan kembali. Dan kasus ini belum diselesaikan oleh pihak perusahaan. Sementara perusahaan malah melakukan rekrutmen buruh baru.

Hingga saat ini (thn 2021) PT. Beesco Indonesia masih mempraktek kerja skorsing (hukuman) 30 menit – 1 jam (tiga puluh menit sampai dengan satu jam) setiap hari kepada buruh terutama di bagian Sewwing dan beberapa bagian kerja lainnya dengan upah dari kelebihan jam kerja ini tidak di bayar. Dan buruh menuntut agar perusahaan PT. Beesco Indonesia membayarkan kekurangan upah kerja karena skorsing tersebut.

PT. Beesco Indonesia, masih mempraktekkan kerja tidak aman. Terjadinya tindakan dan praktek kekerasan baik Verbal maupun Nonverbal di tempat kerja yang dilakukan pimpinan kerja kepada buruh: Buruh dilempar Apper dan benda-benda lainnya, dimaki dengan kata-kata kasar dan kotor (tolol, goblok, bodoh, anjing –dllnya), buruh dihukum dengan cara berdiri di depan line, bahkan ada yang dipotong upahnya.

Manajement PT Beesco Indonesia berkali-kali diminta oleh serikat SBGTS-GSBI untuk segera menghentikan (dihapuskannya) tindakan dan praktek kekerasan baik verbal dan nonverbal kepada buruh di tempat kerja. Serikat SBGTS-GSBI mendesak Manajemen harus membuat rencana konkrit dan tindakan nyata untuk memastikan bahwa semua pimpinan kerja di semua Departemen menghentikan praktek kekerasan baik verbal ataupun nonverbal, dan memastikan semua pimpinan kerja dan manajemen berprilaku baik, menghormati hak-hak buruh, beradab dan menghormati serta menempatkan buruh sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang luhur.

PT. Beesco Indonesia masih menggunakan buruh Kontrak (saat ini mayoritas buruh bekerja dengan berstatus kontrak jangka pendek) dan Buruh Harian. Padahal sudah ada Larangan bahwa PT. Beesco Indonesia untuk tidak menggunakan Buruh Kontrak serta di minta untuk segera mengangkat buruh kontrak menjadi buruh tetap (PKWTT) sebagaimana Surat Disnakertrans Kabupaten Karawang Nomor : 566/3133/BPKK tanggal 25 Juni 2013 Prihal Jawaban Surat yang di tujukan kepada PTP. SBGTS GSBI PT. Beesco Indonesia terutama dalam point ke 2 (dua) ayat C. Serta berdasarkan Nota Pemeriksaan Khusus yang di keluarkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat Dinas Tenagakerja dan Transmigrasi Balai Pelayanan Pengawasan Ketenagakerjaa Wilayah II Nomor : 560/3777/BP2K-WIL II tanggal 05 Desember 2017 yang di tujukan kepada Direktur Utama PT Beesco Indonesia.

Penempatan kerja buruh perempuan di tempat kerja berbahaya bagi diri dan kesehatannya. Terutama; Buruh perempuan hamil bekerja dan di tempatkan di tempat kerja yang membahayakan diri dan kandungannya (berbahan kimia, bekerja berdiri dllnya), ditempatkan di bagian pres molding. Termasuk  tidak adanya ruang LAKTASI yang layak dan aman bagi buruh perempuan yang menyusui. Padahal menyediakan ruang LAKTASI yang layak dan aman bagi buruh perempuan yang menyusui adalah kewajiban perusahaan.

PT. Beesco Indonesia tidak bersedia membayar Upah Cuti gugur kandungan bagi buruh perempuan. (contoh;  kasus sdri. Naimatullailiyah/ Ely – Sekretaris PTP. SBGTS-GSBI PT. Beesco Indonesia). Banyak kasus buruh perempuan hamil yang mengajukan Cuti Melahirkan, malah di PHK ataupun di berikan hak Cuti nya tapi upah nya tidak di bayar oleh pihak perusahaan.

Buruh mengeluhkan Ketersediaan Air Minum di tempat kerja selama bekerja yang di konsumsi buruh. Buruh mengeluhkan Air Minum Sering Berbau Tanah, Air Minum Seperti Tidak Layak di Konsumsi dan perusahaan terutama para pimpinan kerja Departemen dan Bagian tidak memberikan kebebasan (waktu yang cukup) kepada buruh untuk  mengambil air minum dan minum. Fasilitas dan tempat ibadah bagi buruh (tempat sholat) serta pimpinan kerja yang tidak memberikan kebebasan (waktu yang cukup) kepada buruh untuk menjalankan Ibadah sholat di waktu jam kerja.

Tentang APD (Alat Pelindung Diri) sebagai fasilitas kelengkapan kerja. Buruh menuntut perusahaan untuk Menyediaan dan Memberikan secara Cuma-Cuma (Gratis) APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai standard (masker, sarung tangan clemek, kacamata, sepatu safety, dllnya) dan memastikan bahwa buruh-buruh yang bekerja ditempat berbahaya dan wajib menggunakan APD menerima APD secara layak dan rutin termasuk perusahaan memberikan pelatihan tentang K3. Serta perusahaan harus memberikan baju seragam perusahaan kepada buruh sebanyak 3 (tiga) stel/Pcs setiap tahunnya dengan kwalitas baju yang layak (tidak panas). Mengeluhkan fasilitas kantin dan menu makan bagi buruh. Sebab selama ini terjadi perbedaan yang mencolok (diskriminasi) antara tempat, menu, dan kualitas makanan untuk pimpinan dan buruh (operator).

Mengeluhkan masalah hak cuti tahunan, hak cuti melahirkan dan gugur kandungan, Hak Cuti Haid bagi buruh perempuan, Hak Cuti Menghitankan dan Menikahkan Anak, Hak Cuti Keluarga (orang tua dan mertua) meniniggal dunia, Hak Cuti Suami ketika Istrinya melahirkan dan hak cuti lainnya yang sulit bila mau di ambil (digunakan), kadang selama buruh Cuti Upah nya tidak dibayar dan di potong dari hak cuti Tahunan Buruh.

Toilet yang selalu kotor tidak terawat, Air nya kadang menyala kadang tidak, perlengkapan toilet seperti gayung, ember, tissu. Buruh yang harus menyediakan secara mandiri dengan artian kebutuhan tersebut menjadi tanggungjawab buruh dan tidak adanya petugas kebersihan toilet. Belum lagi jumlah kertersediaan Toilet (kamar mandi/WC) di tiap Departemen yang jumlahnya tidak proposional (tidak sesuai dengan jumlah buruh, tidak sesuai dengan kebutuhan jumlah buruh). Mengeluhkan tidak adanya transportasi (jemputan gratis) bagi buruh yang bekerja shift  2 dan 3 serta tidak adanya uang transport bagi buruh yang bekerja non shift.

PT. Beesco Indonesia masih bertindak Diskriminasi terhadap SBGTS-GSBI dan Anti Kebebasan Berserikat; Mempersulit buruh untuk masuk menjadi anggota SBGTS-GSBI terutama dalam pengajuan dan pelaksanaan pemotongan iuran wajib anggota melalui COS bagi anggota SBGTS-GSBI, Pembatas aktivitas organisasi dilingkungan perusahaan termasuk untuk memberikan hak berunding yang setara dan bebas, Serikat tidak dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan norma ketenagakerjaan dan masalah buruh. Meskipun ASICS sudah menandatangani Protokol FOA, sampai saat ini PT Bessco Indonesia belum menandatangani protocol FOA.

Termasuk masalah perlindungan dan upaya pencegahan penyebaran Covid19 di tempat kerja atau lingkungan perusahaan PT. Beesco Indonesia juga masih sangat buruk. Sejak awal pandemi Covid 19 di tahun 2020 buruh hanya di berikan 1 (satu) pcs Masker yang terbuat dari kain. Dan buruh baru di berikan lagi Masker di bulan Juli 2021 ini sebanyak 20 pcs/orang ( itupun setelah ada protes dan ajuan tuntutan dari organisasi pekerja. Sementara kaca pelindung wajah (face shield) di berikan untuk pimpinan kerja saja (mandor ke atas).

Dan masih banyak lagi keluhan buruh, permasalahan, pelanggaran hak buruh (ketenagakerjaan) yang terjadi di PT. Beesco Indonesia sebagaimana yang di tulis oleh PTP. SBGTS-GSBI PT. Beesco Indonesia dalam Surat Tuntutan Buruh dan SBGTS-GSBI yang di tujukan kepada Pimpinan Perusahaan PT. Beesco Indonesia dengan Nomor Surat : 050-SK/PTP.SBGTS-GSBI/BCI/I/2020 pada Januari 2020 dan di pertegas kembali dalam Surat Nomor: 0110-SK/PTP.SBGTS-GSBI/PT.BCI/KRW/VII/2021 tanggal 14 Juli 2021 tentang Tuntutan dan Desakan SBGTS-GSBI untuk Segera di Selesaikan, Dilaksanakan dan Dipenuhi oleh PT. Beesco Indonesia.

Permasalahan ketenagakerjaan dan pelanggaran hak buruh di perusahaan yang memproduksi bran ASICS juga terjadi di PT Pou Chen Indonesia yang berlokasi di dalam Kawasan Industri PT. Nikomas Gemilang, salah satu kawasan industri alas kaki terbesar di Indonesia.  Produksi terbesarnya saat ini adalah sepatu Asics. Ia juga memvendorkan bagian-bagian sepatu lainnya, seperti rubber, outsole, logo brand di outsole ke pabrik-pabrik lain. Misalnya; PT Xin Hong Tiyu Yong Pin You Xian Gongsi, PT Win Bright Technology, PT Xin Yichang Industrial, dan PT Hui Cai Indonesia.

Mengingat target produksi dari brand yang begitu banyak. Sehingga, sering muncul kekerasan fisik maupun verbal akibat tekanan target order produksi yang begitu tinggi. Secara tak langsung, kondisi ini membentuk rantai kekerasan dari atas kebawah. Sederhananya, atasan menekan bawahan. Bawahan menekan bawahannya terus hingga strata terendah yaitu buruh produksi (Operator). Konsekuensinya, pekerja/buruh sering menerima hukuman. Paling sering adalah cacian, dan kekerasan fisik.

Beban target produksi memang menjadi momok serius dalam dunia kerja di sektor Garmen, Tekstil dan Sepatu. Di mata buruh, soal target, Asics memang menyimpan banyak masalah. Cerita-cerita kekerasan ditempat kerja bukan barang baru. Pengawas (pimpinan kerja) tak segan melempar Apper dan box, menghukum berdiri jika target tak tercapai dan kerjaan menumpuk. Suatu ketika, pernah operator sewing kepalanya harus mencium tembok karena jahitannya kurang bagus dan tidak mencapai target.

Selanjutnya di PT. PA Rubber Indonesia. (sejak 2014, saham PT. PA Rubber Indonesia dibeli oleh Beesco Group dan kemudian memroduksi rubber atau outsole sepatu Asics). Pada tahun 2016, melakukan penangguhan upah selama satu tahun. Pabrik juga melakukan pemutihan status dan massa kerja buruh di tahun 2017. Massa kontrak kerja yang harusnya selesai dan buruh diangkat menjadi karyawan tetap, justru diputihkan tanpa kesepakatan. Caranya, pabrik mengganti nomor induk karyawan (NIK) menjadi tahun 2017 semua. Pekerja yang terhitung bekerja sejak 2014 harus rela diakui dari awal lagi yaitu 2017. Artinya masa kerjanya hilang. Dalihnya karena ada perubahan sistem.

Dua bulan setelah perubahan NIK, pabrik kemudian menginformasikan bahwa buruh akan menerima dua kali gaji, dan langsung dikirim ke rekening buruh secara langsung. Hal ini tentu disambut sorak sorai para pekerja. Ada yang kaget, ada pula yang senang.

Namun, baru diketahui jika dua kali gaji tersebut merupakan uang pengganti pesangon, dan buruh dipaksa menandatangani nota kesepakatan dengan pihak pabrik, yang isinya PHK. Separuh pekerja semuanya di PHK pada September hingga Oktober 2017. Alasannya tetap sama, yaitu efisiensi dan order yang terus berkurang. Kali ini modus yang dipakai adalah pabrik mengirim surat pengunduran diripekerja. Pun di dalamnya akan dijanjikan akan mendapat dua kali PMTK. Meski pada kenyataannya buruh hanya mendapatkan satu kali PMTK. Pabrik beralasan klasik. Tak mampu membayar karena merugi.

Proses perubahan NIK itu tentu bukan tanpa maksud buruk. Hitung-hitungan pabrik matang, bahwa kebijakan itu akan memperkecil nominal uang pesangon. Jika ia akan melakukan PHK. Sebab, rata-rata buruh sudah bekerja sejak 2009 hingga 2011. Jadi, pengiriman dua kali gaji dan merubah NIK adalah siasat licik.

Seperti halnya tidak memberikan bukti surat pengunduran diri. Akal-akalan ini ditengarai intrik perusahaan. Buruh seolah-olah mengundurkan diri. Sebab, jika mengundurkan diri maka pabrik tidak perlu membayarkan uang pesangon. Pun saat terjadi PHK, ada 18 pekerja/buruh yang sedang hamil. Delapan diantaranya masih bekerja dan 10 lainnya sedang cuti melahirkan.

Penutup

Meskipun ASICS sudah menandatangani Protokol Freedom of Association (FOA) namun Pelangaran Kebebasan Berserikat (union busting) Masih Terus terjadi diseluruh rantai pasok produksi ASICS di Indonesia, termasuk di pabrik-pabrik utama. Barang-barang ASICS di produksi dan dihasilkan dengan penuh penindasan dan penghisapan, penuh dengan pelanggaran atas hak-hak buruh, dan pelanggaran atas hukum ketenagakerjaan Indonesia.

Dengan menjadi sponsor Olimpiade Tokyo-Jepang 2020, Asics Mendapatkan Keuntungan Lebih. Tetapi Pekerja Tidak Mendapatkan Apa-Apa dan Bekerja Dalam Kondisi Yang Lebih Buruk untuk Memproduksinya.

Untuk itu atas semua masalah yang terjadi di pabrik utama yang memproduksi ASICS dan seluruh rantai pasoknya, ASICS harus bertanggungjawab. ASICS harus terlibat dan turun langsung menyelesiakan setiap kasus dan masalah yang terjadi. ASICS harus memastikan seluruh pabrik utama dan seluruh rantai pasoknya memahami dan menjalankan kode prilaku kerja bisnis ASICS (Code of Conduct), memahami, menghormati dan menjalankan FOA, serta menghormati hak-hak buruh dan peraturan peundangan-undangan khususnya masalah Ketenagakerjaan.

Penulis: Rudi HB Daman, Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here