oleh

Dorong Peningkatan IPM di Sumenep, Paslon 02 Siapkan Program Beasiswa Tahfidzul Quran

Foto: Fattah Jasin (Gus Acing) calon Bupati Sumenep nomor urut 02 di pilkada 2020, (dok. Kachonk/liputan12)

SUMENEP|LIPUTAN12 – Pasangan calon (paslon) Bupati Sumenep nomor urut 02, Fattah Jasin-Kiai Ali Fikri berkomitmen akan memberikan perhatian khusus kepada para tahfidz Al-Quran melalui program Beasiswa Tahfidzul Quran.

“Nanti, kami akan menganggarkan melalui ABPD khusus untuk Hafidzul Quran,” ungkap Fattah Jasin, calon Bupati Sumenep saat wawancara dengan liputan12 usai menghadiri silaturahim Kebangsaan FKUB Sumenep di Hotel Utami, Jumat kemarin.

Dikatakannya, perlu diketahui Indek Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten Sumenep masuk dalam 34 terendah. Hal itu menurutnya, disebabkan dari rendahnya angka partisipasi sekolah yang hanya berkisar 5,45 tahun. Dengan asumsi presentase semacam itu, artinya kurang lebih 56 persen Kepala keluarga di Kabupaten Sumenep hanya lulusan Sekolah Dasar (SD).

“Angka partisipasi sekolah itu hanya 5,45 tahun. Jadi dari data itu hampir 59 persen Kepala Keluarga di Sumenep hanya lulusan Sekolah Dasar,” jelas pria yang akrab disapa Gus Acing ini.

Untuk itu, Dirinya akan melakukan beberapa terobosan baru untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah. Sehingga dapat berimbas terhadap membaiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di kabupaten Sumenep. Salah satunya dengan memaksimalkan program wajib belajar 12 tahun secara gratis.

Mantan Kadishub Provinsi Jawa Timur ini juga mengatakan, selama ini ukuran angka indeks pembangunan manusia itu hanya diukur berdasarkan sekolah formal, padahal Sumenep memiliki banyak Pondok Pesantren yang sangat luar biasa.

“Untuk itu penting memformalkan sekolah-sekolah yang ada di Pondok Pesantren guna mendorong pesantren supaya masuk dalam penghitungan IPM. Ya, wajib belajar 12 tahun dan itu harus digratiskan,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa hal itu bisa dilakukan apabila dirinya diberikan mandat oleh masyarakat untuk memimpin Sumenep dalam 5 tahun ke depan, karena menurutnya, ia memiliki banyak pengalaman tentang program peningkatan partisipasi sekolah dari beberapa gubernur yang pernah memimpin Jawa Timur.

“Saya kan 34 tahun di provinsi. Saya di Bappeda hampir 25 tahun, mulai dari staf. Jadi saya tau karakter gubernur, ketika Pak Soekarwo ada Program Bosdamadin ketika Pak Imam Utomo ada beasiswa untuk anak tahfidz,” tuturnya.

Reporter: Kachonk
Editor     : Redaksi
Copyrigh © Liputan12 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *