oleh

Ketua FKUB Sumenep Minta Kerukunan Masyarakat Tetap Terjaga Jelang Pilkada 2020

Foto: Mahfud Rahman, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumenep

SUMENEP|LIPUTAN12 – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar silaturahmi Kebangsaan dengan mengusung tema “Mewujudkan Pilkada Sumenep Damai Berkualitas dan Berintegritas” yang dilangsungkun di Hotel Utami, Sumenep.

Ketua FKUB Sumenep, Mahfud Rahman mengatakan, pilkada Sumenep 2020 harus jadi media untuk meningkat kualitas demokrasi yang dapat melahirkan pemimpin yang amanah dan jujur. Dengan begitu, masyarakat diminta untuk mengenali visi dan misi dari kedua pasangan calon dengan baik.

“Pilkada selain untuk meningkatkan kualitas demokrasi juga untuk menghasilkan pemimpin yang amanah, jujur dan bisa membawa Sumenep
untuk lebih cemerlang,” ungkap Mahfud Rahman saat ditemui liputan12 di sela-sela acara silaturrahmi kebangsaan.

Mahfud menyampaikan, Pilkada yang dapat meningkatkan kualitas demokrasi harus jauh dari isu-isu sara dan hoax, yang kapitalisasi untuk kepentingan politik belaka. Pihaknya mewanti-wanti betul jangan sampai dilakukan karena akan menciptakan polarisasi di level masyarakat dan akan mengganggu Kebhinekaan yang sudah menjadi konsensus kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jangan sampai terkotori dengan politik uang. Kita pastikan berjalan aman, damai dan sukses,” tegasnya.

Lanjut Mahfud Rahman, untuk melahirkan kualitas demokrasi pada pilkada, harus terlepas dari politik uang. Untuk itu diingatkan kepada masyarakat Sumenep secara khusus untuk membentengi diri agar tidak terpengaruh akan hal itu. Karena itu dilakukan oleh masyarakat akan merugi sendiri.

Untuk itu saya akan terus memberikan saran dan masukan kepada partai pengusung, Pasangan Calon (Paslon) Pilkada dan tim susksesnya, serta saat berkampaye mencari dukungan hendaknya menjaga etika dalam berpolitik.

“Demokrasi bukan berarti bebas dan menghalalkan segala cara untuk memenangkannya seperti menjatuhkan orang lain dengan memfitnah, tetapi demokrasi itu memiliki etika berpolitik,” paparnya.

Dalam kehidupan berbangsa, perbedaan agama, suku dan ras diajarkan untuk bersikap toleransi. Apalagi itu hanya perbedaan politik.

“Pilihlah dengan menggunakan hati bukan karena uang. Lima detik salah menentukan pilihan, maka lima tahun kita akan menyesal,” pungkasnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Bupati Sumenep KH Busyro Karim, Kapolres Sumenep dan MUI serta tokoh lintas agama.

Reporter: Kachonk
Editor     : Redaksi
Copyrigh © Liputan12 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *