oleh

Keadilan dalam Sebuah Mimpi

Oleh: Veni Eldiana

JAKARTA|LIPUTAN12 – Tok…tok…tok…” ketokan palu dari Sang Mulia menutup kisah perjuangan yang cukup panjang dalam menegakkan kebenaran dan membela harga diri dan berharap berpayung pada hukum negeri ini.

Teriakan kakak laki-laki pertamaku “kami mau kasasi, pengadilan aneh…pengadilan aneh….” sembari diikuti mereka yang berjubah hitam dan sepasang sejoli yang duduk di pesakitan dengan pengamanan berebut menuju pintu ke bagian dalam pengadilan.

Usapan lembut di punggungku oleh puteriku yang duduk tepat di belakangku sembari membisikan kata “umi sabar….umi sabar…., sabar ya mi….” Ya Allah nak, harusnya aku yang menguatkanmu, kamu yang terluka oleh laki-laki yang ditunjuk Allah sehingga kamu hadir di dunia ini dengan sebutan “Ayah”.

Sementara di luar ruangan, putra kesayanganku terpaku dengan sejuta perasaan haru…, maafkan umi nak, umi sudah berjuang, hukum negeri ini sangat kejam….terbayang wajah mamaku di seberang sana, tidak terhitung berapa banyak air mata mama menangisi takdir yang harus aku dan anak-anakku jalani…

Aku sangat syok, pendampingku dari P2TP2A, berusaha menenangkanku…. semua badanku terasa dingin dan kakiku berat melangkah, kakak-kakakku, pendampingku dan anak-anakku menguatkanku sampai kami meninggalkan pengadilan negeri Cibinong. Sementara mereka bersembunyi tidak berani menampakan diri, seakan sedang dikejar dalam sebuah perburuan.

Itulah akhir dari ceritaku, cerita yang bermula dari sebuah penghianatan dalam mahligai rumah tangga, 19 tahun perkawinanku, dan hampir 23 tahun kebersamaan runtuh dengan dahsyatnya, meninggalkan luka yang sangat dalam padaku, anak-anakku dan keluarga besarku, lelaki yang harusnya melindungi, menjaga, dan menuntun kami ke surga justru menghadikan neraka dunia dalam kehidupan kami, hatiku dan anak-anak dirajam, bahkan sayatan-sayatan luka itu terasa sangat perih entah sampai kapan aku bisa mengembalikan tawa bahagia di wajah buah hatiku.

Mereka yang kami pikir adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menegakkan keadilan bagi insan di negeri ini, ternyata menambah sayatan-sayatan luka. Sumpah atas nama Allah hanyalah lisan, karena hati nurani sepertinya tergadaikan, ingat, kifarah itu jelas akan datang jika suatu saat dirimu, pasanganmu, anak-anakmu, saudaramu mengalami apa yang kami alami. Ingatlah ada saya dan anak-anak yang terzalimi hari ini, hidup tidak lama, kita semua akan dimakan usia, kehebatan dan jabatan akan hilang seiring seragam usang, dan di saat itu akan hadir penyesalan-penyesalan yang akan menyiksa bathin karena pernah menyukseskan sebuah pendustaan.

Senyum kemenangan tersungging di wajah sejoli dan sang pembela, karena mampu menaklukan hukum negeri ini. Silahkan tertawa dan menarilah sepuasnya, kami mencoba ikhlas dan yakin bahwa pengadilan Allah tidak akan pernah salah, dan itu pasti datang. Aku dan anak-anakku adalah segitiga yang kuat dan tak terpatahkan, kekejaman ini akan membuat kami semakin kuat berpegangan berjalan ke depan.

Aku dan anak-anak telah mengantarkan seorang lelaki yang tidak pernah puas dalam hidupnya menggenggam tahta dan harta, dan dorongan nafsu duniawi melengkapinya dengan wanita. Olahraga mahal (golf) yang sangat digilai dengan alibi urusan pekerjaan telah memberimu hadiah hebat, runtuhnya rumah tangga di tangan cady-cady dan waiters lapangan golf. Sumpahmu berkali kali di bawah Al Quran suatu saat akan Allah buktikan, di saat itulah mata mereka semua akan terbuka. Kehebatan manusia ada batasnya, roda berputar, dan adakalanya berada di bawah.

Kami jadikan Dia Raja di rumah, berharap menjadi Raja di luar sana, tapi apa yang terjadi setelah duduk di singgasana, sang Raja berburu selir mengikuti hentakan irama setan. Terus menari bahkan sampai penabuh gendangpun tak sanggup lagi…

Pengabdian dan kesetiaan dibalas dengan kejam, tangis anak-anak, dan berkali kali ingin mengakhiri hidupnya diabaikan. Di luar sana membela diri dengan memutar balikan fakta untuk mencari pembelaan, tetapi masyarakat sudah cerdas, walaupun sepandai apapun mengolah lisan, mata dan hati mereka bisa membedakan antara yang bathil dan haq.

Kami coba mengetuk pintu keadilan, melalui perjalanan yang sangat panjang, menguras energi dan air mata, dihiasi dengan kezaliman mereka yang berseragam, berharap ada yang membantu kami menegakkan hati, tetapi pintu-pintu hati sudah tetutup kebathilan, entah karena apa, kilau dunia membuat mereka lupa, bahwa ada keturunan-keturunan mereka yang akan menanggung akibat dari sebab yang mereka perbuat hari ini terhadap kami. Balasan itu sedang berjalan ke arah kalian.

20 tahun aku ajarkan anak didikku tentang keadilan, tentang hukum, bahwasanya setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama di hadapan hukum (Pasal 28 D), ternyata hanya sebatas pembelajaran, sebatas teori, pada kenyataannya yang terjadi adalah “Hukum Rimba”

Buat wanita yang hadir mematahkan pilar-pilar rumah kami, meruntuhkan sampai hancur lebur bersama keluargamu, nikmatilah hasil mencurimu sampai puas, dengarlah… kami akan membangun kembali, merubah puing-puing ini menjadi istana.

Dan buat lelaki hebat si “Urang Gadang” selamat menikmati kemenanganmu, yakinlah sekalipun sejak berijab kabul dengan wanitamu tidak sebutir beraspun kamu kirimkan buat darah dagingmu, aku dan keluargaku akan memastikan mereka kenyang, tidak sedikitpun rindu dihatimu untuk anak halalmu dengan mencari mereka, kamu lukai hati anakmu, yakinlah alam semesta akan murka…

Ragaku boleh saja sakit, tetapi ketika melihat mata buah hatiku, kekuatan tekadku melebihi kekuatan tubuhku. Aku akan menghadirkan senyum dan tawa kembali di wajah mereka dan mengembalikan semua prestasi anak-anakku yang hilang karena perbuatan si penanam benih, yang disebut “Ayah”.

Dan buat semua pihak yang telah mensupportku, (Komnas Perempuan, P2TP2A, LBH), saudara, teman, sahabat dan kerabat, terima kasih atas kehadirannya, Insha Allah kami akan tetap kuat, selama nyawa masih bersarang di raga, aku akan berjuang untuk anak-anakku, keluargaku dan mencerdaskan anak-anak negeri ini dalam profesiku sebagai guru, dengan tuntunan Lillahi Rabbi.

Jakarta,15 Juli 2020

Sumber : Veni Eldiana
Editor    : Redaksi
Copyrigh © Liputan12 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *