oleh

Tersangka Pengoplos Beras BPNT Dilepas, Polres Sumenep Siapkan Alat Bukti Tambahan

LIPUTAN12.ID|SUMENEP – Dibebaskannya Latifah, tersangka beras oplosan dari tahanan Polres Sumenep, tak membuat kasus tersebut terhenti begitu saja. Bahkan, tim penyidik mulai mempersiapkan alat bukti tambahan yang diminta oleh tim Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.

Bebasnya tersangka dari tahanan Polres Sumenep, tertuang dalam Surat Perintah Pengeluaran Penahanan nomor polisi : SPP-Han/48.f/V/2020/Reskrim, tanggal 18 Mei 2020 yang ditandatangani Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi.

Pertimbangan yang tercantum dalam surat tersebut bahwa untuk kepentingan bantuan penyidikan dalam hal penahanan dan terhadap tersangka, jangka waktu penahanan telah berakhir dan tidak dapat diperpanjang lagi.

“Karena masa penahannya habis, maka tersangka bebas demi hukum. Tapi kami tegaskan, kasus tersebut tidak akan berhenti begitu saja, tetap akan diproses lebih lanjut,” kata Kasat Reskrim Polres Sumenep AKP Oscar Stafanus Setjo, Kamis (21/5/2020).

Menurutnya, Latifah bebas lantaran tim penyidik dari Kejaksaan baru memberikan petunjuk meminta tambahan untuk melengkapi berkas kasus Beras oplosan itu. Yakni, pada petunjuk tambahan itu dikirim pada Selasa (19/5/2020).

“Jadi karena mepet, masa tahanannya habis, tentu dibebaskan. Tapi kasusnya tetap lanjut,” ungkapnya.

Sebenarnya, sambung Oscar, awalnya Kejari memang menyatakan berkas masih P 19 (belum lengkap), akhirnya kami lengkapi semua berkas yang diminta. Namun, pada Selasa lalu ternyata ada petunjuk tambahan agar melengkapi berkas tambahan lagi.

“Yang jelas, kami akan memenuhi semua berkas tambahan sesuai petunjuk jaksa,” tegasnya.

Kendati demikian, pihaknya mengklaim jika penanganan kasus tersebut serius dan cukup profesional. Buktinya, pihaknya menang dalam sidang Praperadilan yang dilayangkan tersangka Latifah di Pengadilan Negeri (PN) Sumenep.

“Intinya, kami tidak main-main dengan kasus tersebut,” tuturnya serius.

Pasca putusan praperadilan kata AKP Oscar, berkas perkara sudah dikirim kepada pihak Kejaksaan, dan Pihak kejaksaan memberikan petunjuk P19 kepada penyidik untuk dilengkapi.

Setelah semua berkas dinyatakan lengkap, penyidik Polres Sunenep mengirimkan berkas kembali kepada pihak Kejaksaan.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Kepolisian dan Kejaksaan berupaya maksimal untuk memproses kasus yang menyita perhatian publik itu. Namun, penyidik membutuhkan ketelitian lebih dalam menanganinya, mengingat, kasus itu adalah kasus pertama soal beras oplosan di Sumenep.

“Perkara tersebut merupakan kasus pertama yang pernah ditangani di Kabupaten Sumenep, sehingga memerlukan ketelitian dalam melengkapi alat bukti untuk dapat dilanjutkan ke tahap penuntutan,” ungkap mantan Panit II Unit III Subdit V Ditreskrimsus Polda Jatim ini.

Diberitakan Sebelumnya, Rabu, 26 Februari 2020 Satreskrim Polres Sumenep melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di gudang Yudatama Art, Desa Pamolokan, Sumenep atas dugaan beras oplosan.

Hasil penyelidikan, penyidik menetapkan Latifa sebagai tersangka. Dia dijerat dengan pasal 62 UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasal 139 UU 18/2012 tentang Pangan, dan pasal 106 UU 7/2014 tentang Perdagangan.

Saat masih berstatus tersangka, Latifa juga sempat mengajukan praperadilan dengan termohon Polres Sumenep. Namun, upaya hukum yang dilakukan itu ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sumenep.

Reporter: Kachonk

Komentar

News Feed