Masyarakat 5 Daskam Suku Kamoro Papua Mengamuk di Cilincing Gegara Besinya dari PT Freeport Dicuri Orang

0
54

JAKARTA | LIPUTAN12 – Masyarakat 5 Dasar Kampung (5 Daskam), suku Kamoro, Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua “mengamuk “ dan marah-marah di hadapan oknum petugas keamanan di lokasi penyimpanan besi hibah dari PT Freeport Indonesia diangkut puluhan truck fuso keluar daerah Cilincing – Jakarta Utara.

Tiga orang Papua mewakili masyarakat 5 Daskam Kamoro Papua itu, pada Kamis (29/7/2021) siang segera menuju tempat penyimpanan besi hibah (Scraps) dari PT Freeport Indonesia itu di Gudang milik almarhun H Asmuni, Chodori dan Ardian, di Jalan Baru Kampung Beting, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara dekat Masjid Al-Fudhola.

Kuasa Hukum Masyarakat 5 Daskam, H. Gimono Ias, S.H., M.H. dari Mega Associates & Law Office mengatakan bahwa wakil masyarakat 5 Daskam Kamoro, Mimika, Papua itu kemarin siang mendapat berita bahwa besi eks PT Freeport milik mereka sudah sejak dua minggu yang lalu diangkut dengan truck fuso oleh oknum dan atau orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga siang kemarin pimpinan dan wakil masyarakat 5 Daskam yakni Edward Yulianus Omeyaro, Paulinus dan Elias MSiren langsung menuju lokasi penyimpanan besi tersebut, dan benar ternyata di Gudang itu terdapat kendaraan truck yang ditarik forklift keluar Gudang dengan mengangkut besi pipa milik mereka.

“Sehingga Edward Yulianus Omeyaro yang akrab dipanggil “Edo” itu, langsung mengamuk dan marah-marah berteriak-teriak di hadapan beberapa anggota Polisi pakaian dinas dan sipil serta dua orang pakaian seragam TNI AD yang ada di lokasi tersebut,” ungkap Gimono Ias, saat dihubungi liputan12.id melalui sambungan telepon selulernya, Kamis malam.

Sudah Konstatering menunggu Eksekusi

Menurut Gimono Ias, bahwa pihaknya sebagai Kuasa Hukum 5 Daskam Kamoro Tomika, Mimika, Papua sangat memaklumi sikap kliennya yang melampiaskan emosinya di hadapan petugas keamanan di lokasi tersebut. Karena besi pipa berjumlah sekitar 100.000 ton itu adalah milik mereka sesuai Putusan Pengadilan Negeri Kelas IA Cibinong, Jawa Barat Nomor: 17/Pen.Pdt/X/2018/PN. Cbi Juncto Nomor 31/Pdt.G/2017/PN. Cbi.

Bahkan, lanjut Gimono Ias, besi scraps itu sebagai obyek eksekusi bahkan sudah dilaksanakan Konstatering atau pencocokan barang oleh Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara Kelas IA Khusus tanggal 17 Juni 2021 yang lalu.

“Setelah Konstatering akan dilanjutkan dengan eksekusi yang saat ini sedang diproses administrasinya oleh Pengadilan Jakarta Utara berkoordinasi dengan Pengadilan Cibinong sebagai pemberi Delegasi dan yang menyidangkan dan memutus perkara yang dimenangkan oleh Masyarakat 5 Daskam Kamoro, Timika, Mimika Papua tersebut,” jelas Gimono Ias.

Gimono Ias memaparkan, menurut Principal perkara yakni Masyarakat 5 Daskam yang diketuai Edward Yulianus Oweyaro, bahwa obyek eksekusi di gudang miliknya alm. H. Asmuni itu diperoleh informasi sudah beberapa kali terjadi pengangkutan besi miliknya, dan terakhir data yang terekam adalah pengangkutan truck fuso tanggal 06, 19, 21, 28 dan 29 Juli 2021, sehingga jika ditotal besi yang diangkut itu bernilai lebih dari Rp. 15 miliar.

“Dengan demikian pengangkutan besi itu segera dilaporkan ke pihak berwajib sebagai pencurian dan perbuatan melanggar hukum karena memidahkan obyek eksekusi yang sudah dilakukan konstatering,” kata Gimono Ias.

Sebagai Kuasa Hukum kami dari Mega Associates & Law Office akan terus melakukan upaya dan pencegahan sesuai peraturan yang berlaku, bahkan jika benar ada oknum yang ikut bermain di belakang pangangkutan itu, maka kami tidak ragu untuk membawa ke ranah hukum.

“Negara kita ini negara hukum, jadi semua orang dan semua pihak harus taat hukum,” ujar Gimono Ias dengan nada tinggi di gagang telepon tadi malam.

“Bahkan, bagi pihak yang merasa dirugikan atas putusan pengadilan itu bisa melakukan upaya hukum sesuai peraturan yang berlaku, dan dilaang main hakim atau berbuat sesuka kehendakanya masing-masing,” tegasnya.

6 Tahun Berjuang

Kemudian Gimono Ias menceritakan, besi bekas milik masyarakat 5 Daskam, suku Kamoro, Timika, Papua tersebut merupakan hibah dari PT Freeport Indonesia yang melakukan penambangan emas terbesar di dunia di wilayah Papua. Wilayah penambangan itu awalnya ada konsensus pemanfaatan tanah ulayat kepada PT Freeport dengan kompensasi tertentu seperti recognisi, sarana kesehatan, Pendidikan dan lain-lain, yang kemudian dengan berjalannya waktu warga masyarakat 5 Daskam Suku Kamoro Timika, Mimika, Papua ini merupakan warga yang terkena dampak langsung dari ekses penambangan.

“Karena wilayah mereka sudah rusak parah akibat limbah penambangan emas itu, pada akhirnya sebagai tindak lanjut MoU (Memorandum of Understanding) antara Direksi PT Freeport Indonesia, Mac Moran, di New Orleance Amerika Serikat pada tanggal 13 Juli 2000, diberikan hibah besi untuk Suku Kamoro Timika sesuai manifest tahun 2004 sampai 2009 dan inilah yang menjadi obyek eksekusi dimaksud,” beber Gimono Ias.

Masih menurut cerita Gimono Ias, klien nya Masyarakat 5 Daskam yang saat ini totalnya sekitar 2,700 kepala keluarga (KK) itu sama sekali belum merasakan manfaat atau hasil dari besi hibah itu, dan setelah berjuang bertahun -tahun barulah 2 tahun kemudian menang di Pengadilan Cibinong.

“Di mana dalam putusan PN Cibinong itu ditegaskan bahwa Masyarakat 5 Daskam berhak atas besi eks PT Freeport berjumlah total sekitar 205.000 ton, yang terletak di 26 titik pada yurisdiksi 14 Pengadilan Negeri di Indonesia, mulai dari Banyuwangi, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Semarang, Bekasi, Serang, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Medan, Pekanbaru, Samarinda, Timika dan Maluku Utara,” sebutnya.

Ditambahkannya, pada persidangan di PN Cibinong itu sendiri diawali gugatan Masyarakat 5 Daskam Kamoro Mimika Papua yang waktu itu diwakili almarhum Robertus Waopea dari Lembaga Masyarakat Adat Kamoro (Lemasko) menggugat mantan bendahara Lemasko, Josef Iri Kabarubun yang menjual besi hibah itu kepada almarhum Muhamad Marwan warga Cibinong dengan Akta Notaris nomor 12 tahun 2011 yang dibuat oleh notaris Erma Subasir, tertanggal 25 November 2011.

“Dan dalam putusan PN Cibinong dengan Nomor 31/Pdt-G 2017 PN Cbi. Itu berbunyi “bahwa jual beli besi antara Josef Iri Kabarubun (penjual) dengan Muhamad Marwan (pembeli) melanggar hukum. Kemudian Erma Subasir (notaris) diputus juga melakukan perbuatan melanggar hukum, Besi eks PT Freeport itu adalah milik Masyarakat 5 Daskam, dan kepada Marwan wajib menyerahkan dokumen asli atas besi hibah itu kepada Masyarakat 5 Daskam,” jelas Gimono Ias.

Tunggu eksekusi

Dari 14 Pengadilan negeri di Indonesia tadi, menurut Gimono Ias bersama Managing Partners Mega & Associates Law Office, Rina Sekhanya, menambahkan bahwa sudah hampir semua pengadilan negeri dilakukan koordinasi, dan sudah beberapa melaksanakan Konstatering tinggal menunggu eksekusi.

“Bahkan, Pengadilan Negeri Serang Banten sudah melaksanakan eksekusi tanggal 09 Juni 2021 atas besi eks PT Freeport di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon Banten,”

Perwakilan Masyarakat 5 Daskam, Suku Kamoro, Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, penerima hibah besi bekas dari PT Freeport Indonesia yang memenangkan perkara di Pengadilan Negeri Cibinong Kelas IA itu adalah:
1. Edward Julianus Omeyaro, dari kampung/Desa Nawaripi.
2. Felix Ber Urmami, dari kampung/Desa Tipuka.
3. Eliyas MSiren, dari kampung/Desa Nawaripi.
4. Pelipus Tianaipa, dari kampung/Desa Aayuka.
5. Paulinus Matuaripi, dari kampung/Desa Nayaro.

Redaktur    : Lekat Azadi
Copyright ©2021 liputan12.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here