Aksi Penggalangan Dana Mahasiswa Unija Sumenep Berujung Pembubaran

0
75
Aksi penggalangan dana Mahasiswa Universitas Wiraraja, Kamis (18/2) di perempatan Jantung Kota Sumenep dibubarkan Satpol PP. (Dok. Kachonk/liputan12).

SUMENEP | LIPUTAN12 – Aksi penggalangan dana untuk Anak yatim yang digalang oleh beberapa Mahasiswa Universitas Wiraraja Sumenep terpaksa berakhir lebih cepat. Pasalnya, karena aksi mereka yang berlangsung pada Kamis (18/2/2021) di perempatan Jantung Kota Sumenep dibubarkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumenep.

Pembubaran diketahui disebabkan mahasiswa yang melakukan penggalangan dana untuk anak yatim tidak menggunakam tanda pengenal (kalung pengenal) atau almemater. Namun saat dikonfirmasi dan di cek oleh awak media liputan12 di lokasi, para mahasiswa tersebut membawa kartu tanda mahasiswa (KTM) Unija.

Kabid Trantibum Satpol PP Sumenep, Fajar Santoso saat dikonfirmasi awak media, Kamis (18/2) usai membubarkan aksi penggalangan dana Mahasiswa Unija. (Dok. Kachonk/liputan12).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Sumenep, Fajar Santoso menyampaikan bahwa sesuai dengan peraturan Bupati (perbup) dalam permintaan sumbangan, harus mengantongi izin dari Pemerintah Daerah melalui perizinan.

“Kami bubarkan dulu sementara sampai ada izin dari Pemkab. Jadi, semua penggalangan dana harus ada izin,” ujar Fajar Santoso saat dikonfirmasi awak media usai membubarkan aksi penggalangan dana.

Fajar melanjutkan, meskipun untuk bencana sekalipun kegiatan penggalangan dana harus ada izin, agar bisa tahu dengan jelas pelaksanaan dari mana kemudian diarahkan ke mana.

“Ini termasuk mengganggu ketertiban umum, jadi harus ada izinnya dulu, kalau tidak ada ya Satpol PP hanya menjalankan aturan yang berlaku. Setiap apapun yang dilaksanakan di publik pasti butuh izinlah,” bebernya.

Dijelaskannya, pembubaran yang dilakukan itu karena pihaknya khawatir nantinya ada model pengemis-pengemis yang meniru gaya mahasiswa tersebut, karena sudah banyak modus-modus yang meminta sumbangan seperti itu.

“Nah!! Ini mahasiswa tidak memberikan pengenal, saya menghindari model -model seperti itu, ini dilampu merah jadi mengganggu ketentraman,” tandas Fajar.

Meski dari mahasiswa sendiri ingin menunjukkan tanda pengenal mahasiswa (KTM), pihaknya menolak karena masyarakat tidak melihat kartu mahasiswa melainkan tanda pengenal yang diluar yang dilihat.

“Makanya tindakan yang saya ambil, ya dibubarkan dulu sambil menunggu ketuanya datang,” ucapnya

Masih kata Fajar, menurut pengakuan dari mahasiswa sendiri sudah melakukan surat pemberitahuan secara tertulis kepada polsek kota. Namun menganai surat izinnya masih tidak jelas diperbolehkan atau tidak, mereka hanya menunjukkan surat pemberitahuan.

“Karena tidak mungkin polsek memberikan izin secara tertulis, ini bukan wewenangnya Polsek,” ucap Fajar.

Dikonfiramsi terpisah melalui sambungan telpon, Kapolsek Sumenep Kota, AKP Jawali mengaku tidak mengatahui ada kegiatan tersebut, sebab pihaknya belum menerima surat resmi apapun.

“Hal itu juga bukan kewengan kami, itu kewenangan Pol PP, klarifikasi kesana,” terang AKP Jawali.

Sementara itu, Anggota Front Keluarga Mahasiswa Suemenep (FKMS), Syafid Ahmadi sangat menyayangkan pembubaran ini, pasalnya masih banyak tugas Satpol PP yang lebih urgent untuk di lakukan penertiban dan pembubaran selain dari hal ini.

Dirinya merasa miris ketika pejabat ataupun pihak berwenang malah cenderung berpola pikir birokratis, tidak melihat substansi yang dibawa.

Mungkin alternatifnya membuat galang dana hari ini karena teman-teman mahasiswa masih peduli dengan angka kemiskinan di kabupatem sumenep dan juga untuk membantu Anak yatim, apa lagi saat ini masih Masa Pandemi, Setidaknya Satpol PP memberikan arahan dulu bukan langsung ada pembubaran dan lain-lain.

“Jadi kita pikir galang dana disini sangat efektif menambah jumlah pundi-pundi dana yang akan kita salurkan, dan untuk melaksanakn keguatan sosial nantinya.” jelasnya.

Sampai berita ini diturunkan, dari mahasiswa sendiri yang melakukan penggalangan dana untuk anak yatim enggan memberikan komentar, sebab pihaknya masih menunggu koordinator lapangannya disisi lain mereka merasa takut, sebab sudah berupaya memberikan kartu tanda pengenal Mahasiswa (KTM) sempat ditolak oleh Satpol PP.

Redaktur      : Lekat Azadi
Copyright© liputan12 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here