Soal Beredar Foto Ambruknya Proyek PATM Senilai 4,8 Milliar, Ini Penjelasan Kadis PU SDA Sumenep

0
56
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid (Dok. Kachonk/liputan12)

SUMENEP | LIPUTAN12 – Beredarnya foto di media sosial (medsos) yang memperlihatkan bangunan Pompa Air Tanpa Motor (PATM) di Dese Lebbeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mengalami rusak parah bahkan dalam foto tersebut terlihat beberapa pipa air juga mengalami kerusakan.

Pompa Air Tanpa Motor merupakan proyek prasarana pengelolaan yang di bidangi oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Sumenep. Di mana air yang difungsikan sebagai normalisasi aliran sungai, sehingga bisa bermanfaat bagi semua masyarakat, khususnya masyarakat di Desa Lebbeng Barat.

Namun sangat disayangkan, proyek tersebut belum genap tiga bulan setelah diresmikan oleh Bupati A. Buya Busyiro Karim itu, kini sudah beredar foto-foto yang memperlihatkan pembangunan PATM sudah ambruk dan tak berfungsi lagi.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid mengatakan bahwa foto yang beredar di media sosial itu merupakan foto yang diambil sebelum adanya perbaikan bangunan.

Namun saat ini, kata dia, sudah dalam proses perbaikan oleh kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, sambil menunjukkan bukti-bukti foto terbaru Pompa Air Tanpa Mesin (PATM).

“Foto yang beredar merupakan foto lama dan sudah diperbaiki,” kata Chainur Rasyid saat dikonfirmasi awak media liputan12 di kantornya, Jum’at (15/1/2021).

Ia juga membenarkan, jika sebagian fasilitas rusak. Namun, kerusakan itu bukan terjadi pada bangunan atau tandon, melainkan hanya pipa.

“Itu disebabkan hujan deras sehingga mengakibatkan beberapa pipa kena robohnya pohon kelapa dan bebatuan. Karena saat itu terjadi banjir bandang,” terangnya.

Apalagi, lanjutnya, dipinggir sungai saat ini tidak ada penahan tanah sehingga mudah roboh saat kondisi air sungai sudah besar. Di mana sungai tersebut merupakan muara dari tiga sungai dan posisi pompa berada di posisi tengah aliran sungai. Struktur tanah di sana juga mudah ambruk.

Mantan Kabag Umum ini, menambahkan, kerusakan sudah mulai diperbaiki oleh rekanan. Sehingga pada musim kemarau tiba segera bisa difungsikan kembali.

“Saat ini dalam proses perbaikan, dan itu juga sedang dalam pegerjaan karena masih dalam masa waktu pemeliharaan,” tandasnya.

Diketahui, sesuai data LPSE Kabupaten Sumenep, proyek tersebut dibangun menggunakan APBD tingkat II dengan nilai pagu Rp. 4.960.000.000. CV. Sady Family sebagai pemenang tender dengan nilai kontrak sebesar Rp. 4.860.970.000 miliar.

Anggaran tersebut salah satunya dipergunakan pembangunan dua bendungan, yakni bendungan satu mempunyai 10 pompa dan bendungan dua sebanyak 7 pompa, dua blustru dan satu tandon dengan kapasitas 72 ribu liter per detik.

Dengan pembangunan itu, pemerintah daerah meyakini bisa mensuplai kebutuhan air untuk lahan pertanian seluas 106 hektar yang tersebar di beberapa desa, yakni Desa Lebeng Barat, Lebeng Timur, Prancak, dan Desa Montorna Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep.

Namun, upaya tersebut tampaknya belum bisa terealisasi karena sebagian alat rusak sebelum difungsikan. Padahal, proyek miliaran itu baru diresmikan oleh Bupati Sumenep A. Busyro Karim pada awal November 2020 lalu.

Sebelumnya, Sekertaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep, M. Ramzi mengatakan, pada Rabu kemarin tanggal, 13 Januari 2021, kami bersama anggota Komisi III lainnya hendak akan melakukan sidak ke lokasi ambruknya pembangunan Pompa Air Tanpa Motor (PATM) di Desa Lebbeng Barat.

Menurut M. Ramzi, sidak dilakukan untuk memastikan kebenaran informasi yang menyatakan bahwa Pembangunan PATM yang ada di Kecamatan Pasongsongan itu tidak berfungsi, jika memang itu tidak berfungsi apa kemudian yang menjadi penyebab. Karena sangat disayangkan jika proyek tersebut dengan gelontoran dana yang cukup besar tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Sangat disayangkan jika pembangunan itu sudah tidak berfungsi, apa lagi sampek ambruk hanya karena pekerjaanya yang kurang maksimal. Proyek itu menghabiskan dana kurang Lebih 5 Miliar Rupiah, masak sekarang sudah ambruk dan sudah tidak berfungsi? Kami Komisi III mendengar kabar itu ingin memastikan betul atau tidak, apa penyebabnya karena faktor alam atau karena human eror,” kata M Ramzi saat dikonfirmasi di Gedung DPRD Sumenep, Kamis (14/1/2021).

Hanya saja Politisi Hanura itu tidak menyebutkan kerusakan yang dimaksud, karena saat hendak mengecek ke lokasi pembangunan terkendala hujan, sehingga rombongan Komisi III kembali sebelum sampai ke lokasi.

Ia juga menyampaikan, sebagai anggota Dewan perwakilan rakyat Sumenep, kami akan melakukan koordinasi kembali untuk melakukan sidak ke lokasi PATM.

“Ya, kami pastikan akan mengatur jadwal ulang untuk melakukan sidak kembali,” tutupnya.

Redaktur : Lekat Azadi
Copyright© liputan12 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here