Ratusan Mahasiswa Gruduk Kantor Bappeda Tolak Penambangan Fosfat di Sumenep

0
31

SUMENEP | LIPUTAN12 – Aksi penolakan rencana penambangan fosfat di Kabupaten Sumenep makin memanas, terbukti hari ini puluhan Mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di halaman kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep.

Aksi Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Sumenep (AMS), di antaranya FKMS, FPM, GARDA, FKPS, GEMPAR dan Semar, mendatangi Bapedda karena mereka menduga Bapedda-lah yang menjadi biang kerok pelegalan tambang fosfat di kota Sumekar ini.

Polemik proyeksi Bappeda yang memiliki rencana untuk menambah kawasan peruntukan tambang fosfat yang semula ada di 8 Kecamatan dalam Perda nomor 12 tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2013 – 2033 pasal 40 ayat 2 menjadi 17 kecamatan pada review RTRW tahun 2021.

Dalam aksinya mereka mendesak agar pemerintah daerah menghapus Pasal 40 Ayat 2 Perda RTRW nomor 12 Tahun 2013 dalam reviewnya nanti. Karena pasal tersebut menurut mahasiswa sangat bertentangan dengan pasal lainnya yakni pasal 32 tentang kawasan lindung geologi.

Selain itu, mahasiswa juga meminta agar rencana pertambangan fosfat dihentikan untuk keselamatan para petani, karena menurutnya para petani adalah tulang punggung kabupaten Sumenep.

“Kami mahasiswa dan masyarakat meminta agar pasal 40 ayat 2 dihapus, karena dinyatakan mencelakakan rakyat,” tegas Abd Basid selaku Korlap aksi dalam orasinya, Selasa (9/3/2021).

Basit menuturkan harusnya dalam merumuskan sebuah kebijakan Pemkab Sumenep harus mempertimbangkan hak-hak masyarakat yang berbasis kepada pembangunan jangka panjang bukan sesaat.

Sementara kata Basit pada saat Gubernur Jawa Timur Dra. Khofifah Indar Parawansa dalam kunjunganya saat Sertijab Bupati kemarin, meminta Bupati dan Wakil Bupati Sumenep untuk menggenjot sektor pertanian dengan tujuan untuk menentaskan kemiskinan di Kabupaten Sumenep ini. Justru pada implementasinya Pemkab malah mendorong pertambangan yang akan menghancurkan sektor pertanian.

“Janji kesejahteraan tidak akan didapatkan, malah sebaliknya masyarakat akan mendapat resiko kerusakan dan bencana alam. Parahnya bencana alam tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh generasi hari ini tapi juga generasi selanjutnya,” tegasnya

Menanggapi hal itu, Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep Yayak Nurwahyudi tidak bisa menguraikan dengan jelas bentuk kajian pemerintah dalam menentukan kawasan peruntukan pertambangan di dalam RTRW.

Ia hanya menyebut, akan menguji aspirasi mahasiswa terkait tumpang tindih kawasan peruntukan didalam pembahasan dan diskusi bersama Pemerintah Jawa Timur

“Itu kita akan menguji lagi. Di mana sebenarnya yang bertentangan antara kars dan hutan lindung itu dan pertambangan di mana titik lemahnya. Ini kenapa bisa berbenturan, disinilah yang akan kita proses pengkajian,” kata Yayak Nurwahyudi.

Dikonfirmasi terkait adanya lokasi keberadaan mineral fosfat yang akan dilakukan eksplorasi pertambangan, Yayak Nurwahyudi mengaku hal itu di Sumenep belum ada aturan yang mengatur secara rinci kawasan peruntukan, dikarenakan Kabupaten Sumenep belum memiliki RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kota)

“Nah itu yang kemudian membedakan RTRW dan RDTRK, seharusnya kita sudah punyak RTDTRK,” jelasnya

Yayak menambahkan, jika aspirasi dari mahasiswa tekait pasal yang tumpang tindih, pihaknya menyebut, memang perlu dikaji, karena membutuhkan proses yang cukup lama.

Sementara proyeksi penambahan titik dari 8 menjadi 17, yayak menegaskan ini sudah sesuai dengan aspirasi masyarakat penambang kabupaten Sumenep.

“Sebenarnya itu sudah berdasarkan masukan-masukan dan aspirasi dari masyarakat penambang. Jadi, apapun aspirasi dari mahasiswa dan masyarakat kemudian kita menjadikan satu kajian, kita ada proses di provinsi dan di pusat, masukan-masukan itu tetap kita proses. Kemudian di proses di DPRD sampai PERDA, harapan kita pada proses RTRW sudah klir di tingkat nasional, di bulan Juni nanti,” tukasnya.

Redaktur      : Lekat Azadi
Copyright© liputan12 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here